Cerpen Deccia Citra
    (XII IPA1).

    Hijab putih yang menutupi wajahku perlahan terbuka. Orang-orang di sekeliling berbisik memanggilku. Badanku lemah, tak cukup kuat untuk bangkit. Kepalaku pusing, mataku berkunang-kunang.

    “Jab, hijab… Bangun. Sadarlah, nak” Bi Endah membangunkanku. Sambil menahan tangis. Aku tahu ia terisak-isak berbaur dengan alunan surat yasin yang sedari tadi dikumandangkan dipusara ibuku. Ya, ibuku sekarang di dalam sana, tanpa sempat ku meminta maaf.

    Siang itu.

    Prrang….

    “Hijab bosen bu hidup begini, selalu susah. Hidup susah, makan susah, mau gaya-gaya susah. Ini dilarang itu dilarang. Pengen itu, selalu gak bisa. Hijab malu bu, Hijab pengen kaya orang-orang”

    “Maafkan ibu ya nak, nanti kalau ibu sembuh ibu akan cari uang lagi. Hijab pengen apa nanti ibu belikan ya...”

    Sambil menangis ibu membujukku. Sekali lagi, Prrang… Piring, gelas, pecah berantakan. “Kapan ibu bisa beli? Ibu Cuma bisa janji, tapi gak bisa beli!”

    “Astaghfirullah, Hijab…” tangis ibu menjadi.

    “Inget ya bu, panggil aku Nisa, namaku Anisatul Hijab. Jangan panggil Hijab. Norak!”

    Ibu hanya menangis sambi bersimpuh.

    “Udahlah bu, Hijab bosen hidup sama ibu. Hijab mau pergi!”

    Dari kejauhan hanya tangisan ibu memanggil namaku yang ku dengar.

    Sejenak di sekelilingku sepi. Banyak orang belalu lalang, tapi acuh. Serasa asing. Tatapan mereka aneh jika memandangku. Ah… apa peduliku sekarang aku bebas.

    Tapi, sekarang aku mau kemana? Uang tidak ada,pakaian tidak sempat dibawa dan tempat berteduh untuk malam ini pun belum ku rencanakan. Di sakuku hanya terselip dua lembar lima ribuan dan satu buah HP yang dibelikan pacarku. Ah iya, kenapa tidak terpikir, malam ini aku disana saja. Pasti dia mau menerimaku.

    Pintu pagar tersingkap, awalnya aku ragu, tapi ya sudahlah… apa yang salah, dia pacarku. Pasti mau membantuku, aku benar kan…?

    Tanpa ragu ku buka pintu pagar dan aku terkejut melihat dia dengan perempuan lain. Oh Tuhan! Kepalaku pusing, nafasku sesak, mulutku tak bisa berkata-kata. Padahal ribuan hujatan yang ingin ku lontarkan. Sesaat aku tersihir. Air mataku mengalir deras. Dia hanya menatap. Langkahku gontai saat aku berjalan ke arahnya. Hanya satu kalimat yang bisa ku keluarkan dari ribuan hujatan di otakku. “Aku benci kamu…”

    Mobil angkut yang ku tumpangi berjalan lambat. Penumpangnya hanya aku. Aku menangis sambil menghujat. Ada rasa penyesalan, menyesal mengenangnya dan menyesal karena tidak mendengarkan ibu. Ibu selalu bilang bahwa ia kurang suka dengan laki-laki itu. “Dia sepertinya bukan laki-laki baik-baik nduk…:” berkali-kali ibu bilang begitu. Ah… Ibu. Sedang apa ya sekarang?

    HP ku berdering sms masuk.

    Message from Denny

    Nisa, cynk maf ne g ky qm kira, dy bkn cp2 cynk. Dgrin q dlu dund…pliz L

    Aku balas singkat.

    Kita putus!

    Ah, harusnya dari dulu ku katakana ini.

    Sekarang kemana tujuanku? Kembali ku otak atik HP. Ah iya, masih ada Vita, mungkin dia bisa membantuku. Best friend forever ever after itu selogan genk gonk kami.

    Message to Vita

    Hy Vit, U gy dmn? Bs tlngn w ga? L

    Message from Vita

    Hy Niz, U np? Tlngn pa neh?

    Message to Vita

    W cbut dr humz..W mlz ma nykap W. U bs ga tlngn W, mlm neh ngnep k humz U?

    Plizzz….

    Message from Vita

    Sorry nis, w g bs.nyokap w glak.w bs blg pa ma nyokb lw u kbur dr rmh. Bza abiz W dcrmhn. Sory ya..

    Message to Vita

    Ywd dc gpp. Mkci ya…

    Huft…. Kemana lagi? Hari mulai gelap, tapi sampai saat ini ku belum dapat tempat menginap. Ku coba hubungi temanku yang lain. Best friend forever ever after masih jadi penguatku.

    Message to Rini

    Rin, tlngn w dund… T_T

    Message from Rini

    U npe nIz..???

    Message to Rini

    W Pergi dr humz..mlm neh w gda tmpt ngnep. Bz gag w ngnep dtmpat U…??? L

    Message from Rini

    Mf ye cob,,, w gag bsa..kmr’y smpit, U tw kan w bwu2 cma de w,,mw dtro dmn U drmh W

    Uh…teman ku yang ini memang terkenal pelit, disaat genting pun tetap pelit.

    Angkot terus melaju. Pikiranku melayang. Butiran bening nan hangat mulai membasahi pipiku. Mataku panas. Disaat ku butuh begini, tak seorangpun yang bisa membantu, tak juga genk gonk Best friend forever ever after, ah bullshiiit!

    Kenapa tho Nduk…? Suara hangat bersahaja menyapaku pelan. Aku tidak sadar sedari tadi sudah berapa kali gonta ganti penumpang. Dan yang tersisa hanya aku dan si ibu ini. Aku diam.

    “Kok kelihatannya sedih?”

    Aku hanya tersenyum. Si ibu juga tersenyum. Kami saling diam. Sesaat kemudian terlihat dia mengeluarkan sesuatu dari tasnya

    “Ayo diminum nduk, mumpung masih hangat…”

    Ditangannya sebotol teh hangat yang ia bawa dari rumah, disodorkannya kepadaku.

    “Mmmm…Makasih bu”

    Si ibu tersenyum senang.

    “Mau kemana tho nduk?”

    “Gak tau bu, saya bingung.”

    “Lho, kok ndak tahu, memangnya rumah kamu dimana?”

    Aku hanya menggeleng.

    “yowis, ikut saja kerumah ibu nduk…”

    “Emm..tap,,tap,,,tapi bu..?”

    “yowis ora opo-opo, ayu ikut saja. Mas, Aku tak ngiri yo…Aku mandeg neng kene wae”

    Si ibu berteriak kepada supir dengan logat jawanya yang khas. Aku menurut sajalah. Toh malam ini aku belum mendapatkan tempat untuk menginap.

    Si ibu menuntunku ke jalan setapak. Jalannya masih berbatu dan tanah merah. Agak becek, tampaknya baru saja hujan. Aku sedikit mengangkat celana jeans ku yang kepanjangan. Si ibu menyingkapkan roknya agar tidak terciprat air.

    “Namamu sopo nduk?”

    “Nisa Bu, Anisatul Hijab.”

    “Apik tenan namamu nduk, Hijab. Pasri ibumu ingin anaknya tertutup, eh maksud ibu lebih menutup dan tahu batasan.” Si ibu meralat kata-katanya sambil terkekeh. Perkataan si ibu membuatku terhenyak. Aku ingat sewaktu aku SD kelas V. Siang itu, aku masuk rumah dengan terburu-buru. Sambil menangis, aku memeluk ibu.

    “Bu, kenapa sih aku dipanggilnya Hijab? Enggak Nisa aja…?”

    Ibu tersenyum, dan membelai rambutku.

    “Memangnya kenapa tho nduk?”

    “Kata teman-teman Hijab, namanya enggak keren bu”

    “Ya jangan dengerin tho nduk… Hijab itu artinya penutup. Kelak ibu ingin kamu menjadi wanita yang bisa menutup auratmu dan menjaga batasanmu nduk.”

    Desiran hangat terasa di kudukku.

    “Lho kok bengong tho nduk…?”

    Pertanyaan si ibu membuyarkan lamunanku

    “Emmm,,, gak apa-apa ko bu. Emm… ini dimana bu?”

    Ibu tersenyum.

    “Disinilah rumah ibu nduk, di masjid ini. Ada kamar yang sudah disediakan pengelola masjid untuk ibu yang sebatang kara ini.”Aku kaget. Si ibu hanya tesenyum lebar melihat aku bingung.

    “Pakai ini nduk… hijab ini cocok untukmu.Pasti cantik sekali”

    Ku raih jilbab putih di tangan si ibu.

    “Cepat ambil air wudhu lalu kau solat. Mengadulah kepada-Nya atas semua masalahmu, dan mintalah diberi jalan yang terbaik.”

    Si ibu menuntunku ke tempat wudhu, setelah itu, aku solat, kakiku gemetar. Perlahan ayat suci yang ku ucapkan membuat dadaku sesak. Aku teringat ibu. Kejadian tadi siang melegakanku menjadi si malin kundang seperti dongeng orang tua zaman dulu. Astaghfirullah… Aku menangis dalam setiap gerak solatku.

    Selesai salam, mataku mencari sosok si ibu yang baru ku kenal. Sekeliling tempat sepi masjid terasa dingin. Bulu kudukku merinding baru beberapa langkah aku mencari, tiba-tiba sekelilingku gelap. Mataku berkunang-kunang, pusing. Badanku limbung dan gubrak… Badanku terhempas.

    “Nak…Bangun.”

    Suara parau membangunkanku. imam masjid sudah datang untuk mengumandangkan azan subuh.

    “Sa saya dimana ini pak…?”Ibu yang tinggal disini kemana?”

    Aku bingung dan setengah sadar.

    “Kamu sedang di masjid nak, tidak ada yang tinggal di masjid ini. Saya yang mengurus masjid ini, tapi saya tinggal dirumah yang letaknya tidak jauh dari sini.”

    “Ta tapi pak, semalam ada seorang wanita yang mengajak saya ke masjid ini dan memberikan saya jilbab putih ini. Dia juga menyuruh saya solat disini. Lalu saya tidak tahu apa-apa lagi.”

    Pak tua itu tersenyum.

    “Wallahualam bishowab nak, yakinlah ini hidayah dari Allah SWT. Ayo siap-siap solat subuh.”

    Aku masih bingung. Perlahan ku usap air wudhu ke wajahku. Segar, pikiranku sedikit tenang mungkin ini memang hidayah dari-Nya, pikirku.

    Kuputuskan pagi itu untuk pulang ke rumah. Berharap ibu mau memaafkanku dan menerima ku kembali. Oh ibu, rasanya aku rindu.

    Sayup-sayup terdengar lantunan surat yasin dari arah rumah. Sesaat berikutnya ku lihat bendera kuning bertengger di halaman rumahku. Ku percepat langkah untuk sampai ke rumah. Bi Endah dan Mang Iwang menyambutku dengan isak tangis.

    “I i ibu kemana bi?”

    “Ibumu … Ibumu Jab..huhuhu…”

    Tangis Bi Endah menadi

    “Ya Ibu kenapa?”

    “Ibumu, ibumu telah meninggal.”

    “Apa...??? meninggal mang? Innalillahi ..Ibu..huhuhu…”

    Tangisku pecah. Rasa penyesalan teramat sangat bersarang di batinku.

    Bi Endah menuntunku bangun semua terjadi begitu cepat. Kini ibu benar-benar pergi. Kembali aku teringat peristiwa di masjid semalam. Seperti mengisyaratkanku akan sesuatu. Hijab putih yang diberikan si ibu masih ku genggam. Kucium aromanya, tunggu, sepertinya ku kenal aroma ini. Aku bergegas ke kamar ibu menarik sesuatu, mukena. Ya, mukena yang sering dipakai ibu. Betapa kagetnya aku, ternyata aroma jilbab itu sama dengan aroma ibu yang khas saat solat. Aku hafal betul aroma ini. Subhanallah… Aku menangis. Lidahku keluh. Hanya memuji-Nya yang bisa ku lakukan. Ternyata hijab putih ini amanat terakhir ibu….

    Tangerang, 25 September 2010

    Hari-hari ini kita telah memasuki bulan Muharram tahun 1432 Hijriah. Seakan tidak terasa, waktu berjalan dengan cepat, hari berganti hari, pekan, bulan, dan tahun berlalu silih berganti seiring dengan bergantinya siang dan malam. Bagi kita, barangkali tahun baru ini tidak seberapa berkesan karena negara kita tidak menggunakan kalender Hijriah, tetapi Masehi. Dan yang akrab dalam keseharian kita adalah hitungan kalender Masehi. Tanggal lahir, pernikahan, masuk dan libur kantor dan sebagainya. Akan tetapi sebagai seorang muslim kita perlu untuk sejenak menghayati beberapa hal yang terkait dengan penanggalan Islam ini.

    Beberapa hal yang seyogyanya kita jadikan renungan itu adalah :


    1. Syukur atas Usia yang diberikan Allah

    Umur adalah nikmat yang diberikan Allah pada kita, dan jarang kita syukuri. Betapa banyak orang yang kita kenal, baik teman, sahabat , keluarga, guru, atau siapa pun yang kita kenal, tahun lalu masih hidup bersama kita. Bergurau, berkomunikasi, mengajar, menasehati atau melakukan aktifitas hidup sehari-hari, namun tahun ini dia telah tiada. Dia telah wafat, menghadap Allah Suhanahu wa ta'ala dengan membawa amal shalehnya dan mempertanggungjawabkan kesalahannya. Sementara kita saat ini masih diberi Allah kesempatan untuk bertaubat, memperbaiki kesalahan yang kita perbuat, menambah amal shaleh sebagai bekal menghadap Allah.
    Umur yang kita hitung pada diri kita seringkali kita tetapkan berdasarkan hitungan kalender Masehi. Dan hitungan atau jumlah usia kita tentu akan lebih sedikit bila dibandingkan dengan hitungan yang mengacu pada kalender hijriyah. Sementara, lepas dari masalah ajal yang akan datang menjemput sewakatu-waktu, terkadang kita menganggap usia kita yang dibanding Rasulullah saw. yang wafat pada usia 63 tahun, kita merasa masih jauh dari angka itu. Padahal bisa jadi hitungan umur kita telah lebih banyak dari yang kita tetapkan. Karena itu sangat tidak layak apabila seseorang yang masih diberi kesehatan, kelapangan rizki dan kesempatan untuk beramal lalai bersyukur pada Allah dengan mengabaikan perintah-perintahNya serta sering melanggar larangan-laranganNya. 

    2. Muhasabah (introspeksi diri) dan istighfar
    Ini adalah hal yang penting dilakukan setiap muslim. Karena sebuah kepastian bahwa waktu yang telah berlalu tidak mungkin akan kembali lagi, sementara disadari atau tidak kematian akan datang sewaktu-waktu dan yang bermanfaat saat itu hanyalah amal shaleh. Apa yang sudah dilakukan sebagai bentuk amal shaleh? Sudahkah tilawah al-Qur'an, sedekah dan dzikir kita menghapuskan kesalahan-kesalahan yang kita lakukan? Malam-malam yang kita lewati, lebih sering kita gunakan untuk sujud kepada Allah, meneteskan air mata keinsyafan ataukah lebih banyak untuk begadang menikmati tayangan-tayangan sinetron, film dan sebagainya dari televisi? Langkah-langkah kaki kita, kemana kita gunakan? Dan sebagainya. Pertanyaan-pertanyaan semacam ini selayaknya menemani hati dan pikiran seorang muslim yang beriman pada Allah dan Hari Akhir, lebih-lebih dalam suasana pergantian tahun seperti sekarang ini. Pergantian tahun bukan sekedar pergantian kalender di rumah kita, namun peringatan bagi kita apa yang sudah kita lakukan tahun lalu, dan apa yang akan kita perbuat esok. 

    Allah berfirman :
    (( يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله ولتنظر نفس ما قدمت لغد واتقوا الله إن الل
    ه خبير بما تعملون ))
    Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al Hasyr: 18).

    Ayat ini memperingatkan kita untuk mengevaluasi perbuatan yang telah kita lakukan pada masa lalu agar meningkat di masa datang yang pada akhirnya menjadi bekal kita pada hari kiamat kelak.
    Rasulullah saw bersabda : "Orang yang cerdas adalah orang yang menghitung-hitung amal baik (dan selalu merasa kurang) dan beramal shaleh sebagai persiapan menghadapi kematian".
    Dalam sebuah atsar yang cukup mashur dari Umar bin Khaththab ra beliau berkata :
    "Hitunglah amal kalian, sebelum dihitung oleh Allah"

    3. Mengenang Hijrah Rasulullah saw
    Sebenarnya dalam kitab Tarikh Ibnu Hisyam dinyatakan bahwa keberangkatan hijrah Rasulullah dari Mekah ke Madinah adalah pada akhir bulan Shafar, dan tiba di Madinah pada awal bulan Rabiul Awal. Jadi bukan pada tanggal 1 Muharram sebagaimana anggapan sebagian orang. Sedangkan penetapan Bulan Muharram sebagai awal bulan dalam kalender Hijriyah adalah hasil musyawarah pada zaman Khalifah Umar bin Khatthab ra tatkala mencanangkan penanggalan Islam. Pada saat itu ada yang mengusulkan Rabiul Awal sebagai l bulan ada pula yang mengusulkan bulan Ramadhan. Namun kesepakatan yang muncul saat itu adalah bulan Muharram, dengan pertimbangan pada bulan ini telah bulat keputusan Rasulullah saw untuk hijrah pasca peristiwa Bai'atul Aqabah, dimana terjadi bai'at 75 orang Madinah yang siap membela dan melindungi Rasulullah SAW, apabila beliau datang ke Madinah.
    Dengan adanya bai'at ini Rasulullah pun melakukan persiapan untuk hijrah, dan baru dapat terealisasi pada bulan Shafar, meski ancaman maut dari orang-orang Qurais senantiasa mengintai beliau.
    Peristiwa hijrah ini seyogyanya kita ambil sebagai sebuah pelajaran berharga dalam kehidupan kita. Betapapun berat menegakkan agama Allah, tetapi seorang muslim tidak layak untuk mengundurkan diri untuk berperan didalamnya. Rasulullah SAW, akan keluar dari rumah sudah ditunggu orang-orang yang ingin membunuhnya. Begitu selesai melewati mereka, dan harus bersembunyi dahulu di sebuah goa, masih juga dikejar, namun mereka tidak berhasil dan beliau dapat meneruskan perjalanan. Namun pengejaran tetap dilakukan, tetapi Allah menyelamatkan beliau yang ditemani Abu Bakar hingga sampai di Madinah dengan selamat. Allah menolong hamba yang menolong agamaNya. Perjalanan dari Mekah ke Madinah yang melewati padang pasir nan tandus dan gersang beliau lakukan demi sebuah perjuangan yang menuntut sebuah pengorbanan.
    Namun dibalik kesulitan ada kemudahan. Begitu tiba di Madinah, dimulailah babak baru perjuangan Islam. Perjuangan demi perjuangan beliau lakukan. Menyampaikan wahyu Allah, mendidik manusia agar menjadi masyarakat yang beradab dan terkadang harus menghadapi musuh yang tidak ingin hadirnya agama baru. Tak jarang beliau turut serta ke medan perang untuk menyabung nyawa demi tegaknya agama Allah, hingga Islam tegak sebagai agama yang dianut oleh sebagian besar penduduk dunia saat itu. Lalu sudahkah kita berbuat untuk agama kita?

    4. Kalender Hijriyah adalah Kalender Ibadah kita
    Barangkali kita tidak memperhatikan bahwa ibadah yang kita lakukan seringkali berkait erat dengan penanggalan Hijriyah. Akan tetapi hari yang istimewa bagi kebanyakan dari kita bukan hari Jum'at, melainkan hari Minggu. Karena kalender yang kita pakai adalah Kalender Masehi. Dan sekedar mengingatkan, hari Minggu adalah hari ibadah orang-orang Nasrani. Sementara Rasulullah saw menyatakan bahwa hari jum'at adalah sayyidul ayyam (hari yang utama diantara hari yang lain). Demikian pula penetapan hari raya kita, baik Idul Adha maupun Idul Fitri pun mengacu pada hitungan kalender Hijriyah. Wukuf di Arafah yang merupakan satu rukun dalam ibadah haji, waktunya pun berpijak pada kalender hijriah. Begitu pula awal Puasa Ramadhan, puasa ayyamul Bidh ( tanggal 13,14,15 tiap bulan) dan sebagainya mengacu pada Penanggalan Hijriah. Untuk itu seyogianya bagi setiap muslim untuk menambah perhatiannya pada Kalender Islam ini.

    5. Beberapa Keutamaan dan Peristiwa di Bulan Muharram
    a. Bulan Haram.
    Muharram, yang merupakan bulan pertama dalam Kalender Hijriyah, termasuk diantara bulan-bulan yang dimuliakan (al Asy- hurul Hurum). Sebagaimana firman Allah Ta'ala:
    "Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah diwaktu Dia menciptakan lanit dan bumi, diantaranya terdapat empat bulan haram." (Q.S. at Taubah :36).
    Dalam hadis yang dari shahabat Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda:
    "Sesungguhnya zaman itu berputar sebagaiman bentuknya semula di waktu Allah menciptakan langit dan bumi. Setahun itu ada dua belas bulan diantaranya terdapat empat bulan yang dihormati: 3 bulan berturut-turut; Dzul Qo'dah, Dzul Hijjah, Muharram dan Rajab Mudhar, yang terdapat diantara bulan Jumada tsaniah dan Sya'ban." (HR. Bukhari dan Muslim)
    Pada keempat bulan ini Allah melarang kaum muslimin untuk berperang. Dalam penafsiran lain adalah larangan untuk berbuat maksiat dan dosa. Namun bukan berarti berbuat maksiat dan dosa boleh dilakukan pada bulan-bulan yang lain.
    Sebagaimana ayat Al Qur'an yang memerintahkan kita menjaga Shalat Wustha, yang banyak ahli Tafsir memahami shalat wustha adalah Shalat Ashar. Dalam hal ini, shalat Ashar mendapat perhatian khusus untuk kita jaga.
    Firman Allah: "Peliharalah segala shalat mu, dan peliharalah shalat wustha" (Q.S. al Baqarah :238) Nama Muharram secara bahasa, berarti diharamkan. Maka kembali pada permasalahan yang telah dibahas sebelumnya, hal tersebut bermakna pengharaman perbuatan-perbuatan yang dilarang Allah memiliki tekanan khusus untuk dihindari pada bulan ini.
    b. Bulan Allah.
    Bulan Muharram merupakan suatu bulan yang disebut sebagai "syahrullah" (Bulan Allah) sebagaimana yang disampaikan Rasulullah SAW, dalam sebuah hadis. Hal ini bermakna bulan ini memiliki keutamaan khusus karena disandingkan dengan lafdzul Jalalah (lafadz Allah). Para Ulama menyatakan bahwa penyandingan sesuatu pada yang lafdzul Jalalah memiliki makna tasyrif (pemuliaan), sebagaimana istilah baitullah, Rasulullah, Saifullah dan sebagainya.
    Rasulullah bersabda : "Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bula Allah (yaitu) Muharram. Sedangkan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam". (H.R. Muslim)
    c. Sunnah Berpuasa.
    Di bulan Muharram ini terdapat sebuah hari yang dikenal dengan istilah Yaumul 'Asyuro, yaitu pada tanggal sepuluh bulan ini. Asyuro berasal dari kata Asyarah yang berarti sepuluh.
    Pada hari Asyuro ini, terdapat sebuah sunah yang diajarkan Rasulullah saw. kepada umatnya untuk melaksanakan satu bentuk ibadah dan ketundukan kepada Allah Ta'ala. Yaitu ibadah puasa, yang kita kenal dengan puasa Asyuro. Adapun hadis-hadis yang menjadi dasar ibadah puasa tersebut, diantaranya :

    1. Diriwayatkan dari Abu Qatadah ra, Rasulullah saw, bersabda :
    " Aku berharap pada Allah dengan puasa Asyura ini dapat menghapus dosa selama setahun sebelumnya." (H.R. Bukhari dan Muslim)

    2. Ibnu Abbas ra berkata:
    "Aku tidak pernah melihat Rasulullah saw, berupaya keras untuk puasa pada suatu hari melebihi yang lainnya kecuali pada hari ini, yaitu hari as Syura dan bulan Ramadhan." (H.R. Bukhari dan Muslim)

    3. Ibnu Abbas ra berkata:
    Ketika Rasulullah saw. tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari‚ Asyura, maka Beliau bertanya : "Hari apa ini?. Mereka menjawab : "ini adalah hari istimewa, karena pada hari ini Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuhnya, Karena itu Nabi Musa berpuasa pada hari ini. Rasulullah pun bersabda :
    "Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian"
    Maka beliau nerpuasa dan memerintahkan shahabatnya untuk berpuasa. (H.R. Bukhari dan Muslim)

    4. Dalam riwayat lain, Ibnu Abbas ra berkata:
    Ketika Rasulullah saw. berpuasa pada hari asyura dan memerintahkan kaum muslimin berpuasa, mereka (para shahabat) berkata: "Ya Rasulullah ini adalah hari yang diagungkan Yahudi dan Nasrani". Maka Rasulullah pun bersabda:

    "Jika tahun depan kita bertemu dengan bulan Muharram, kita akan berpuasa pada hari kesembilan (tanggal sembilan)." (H.R. Bukhari dan Muslim)
    Imam Ahmad dalam musnadnya dan Ibnu Khuzaimah dalam shahihnya meriwayatkan sebuah hadis dari Ibnu Abbas ra, Rasulullah saw. bersabda: "Puasalah pada hari Asyuro, dan berbedalah dengan Yahudi dalam masalah ini, berpuasalah sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya."

    Selain hadis-hadis yang menyebutkan tentang puasa di bulan ini, tidak ada ibadah khusus yang dianjurkan Rasulullah untuk dikerjakan di bulan Muharram ini.

    Bagaimana Berpuasa di bulan Asyura?

    Dalam kitab Zaadul Ma'aad –berdasarkan riwayat-riwayat yang ada- menjelaskan :
    - Urutan pertama, dan ini yang paling sempurna adalah puasa tiga hari, yaitu puasa tanggal sepuluh ditambah sehari sebelum dan sesudahnya (9,10,11)
    - Urutan kedua, puasa tanggal 9 dan 10. Inilah yang disebutkan dalam banyak hadits
    - Urutan ketiga, puasa tanggal 10 saja.
    Puasa sebanyak tiga hari (9,10,dan 11) dikuatkan para para ulama dengan dua alasan sebagai berikut :
    1. Sebagai kehati-hatian, yaitu kemungkinan penetapan awal bulannya tidak tepat, maka puasa tanggal sebelasnya akan dapat memastikan bahwa seseorang mendapatkan puasa Tasu'a (tanggal 9) dan Asyuro (tanggal 10)
    2. Dimasukkan dalam puasa tiga hari pertengahan bulan (Ayyamul bidh).
    Adapun puasa tanggal 9 dan 10, dinyatakan jelas dalam hadis pada akhir hidup beliau sudah merencanakanryang shahih, dimana Rasulullah untuk puasa pada tanggal 9. hanya saja beliau meninggal sebelum melaksanakannya. Beliau juga memerintahkan para shahabat untuk berpuasa pada tanggal 9 dan tanggal 10 agar berbeda dengan ibadah orang-orang Yahudi.
    Sedangkan puasa pada tanggal sepuluh saja, sebagian ulama memakruhkannya, meskipun pendapat ini tidak dikuatkan sebagian ulama yang lain.
    Secara umum, hadits-hadis yang terkait dengan puasa Muharram menunjukkan anjuran Rasulullah saw untuk melakukan puasa, sekalipun itu hukumnya tidak wajib tetapi sunnah muakkadah, dan tentunya kita berusaha untuk menghidupkan sunnah yang telah banyak dilalaikan oleh kaum muslimin.

    d. Diantara Peristiwa di Bulan Muharram
    Pada tanggal 10 Muharram 61H, terjadilah peristiwa yang memilukan dalam di sebuah tempatr cucu Rasulullah tsejarah Islam, yaitu terbunuhnya Husein yang bernama Karbala. Peristiwa ini kemudian dikenal dengan "Peristiwa Karbala". Pembunuhan tersebut dilakukan oleh pendukung Khalifah yang sedang berkuasa pada saat itu yaitu Yazid bin Mu'awiyah, meskipun sebenarnya Khalifah sendiri saat itu tidak menghendaki pembunuhan tersebut.
    Peristiwa tersebut memang sangat tragis dan memilukan bagi siapa saja yang mengenang atau membaca kisahnya, dan kita tentu mencintai dan apalagi terhadap orang yang dicintai Rasulullah memuliakannya. Namun musibah apapun yang terjadi dan betapapun kita sangat mencintai keluarga Rasulullah, hal itu jangan sampai membawa kita larut dalam kesedihan dan melakukan kegiatan-kegiatan sebagai bentuk duka dengan memukul-mukul diri, menangis apalagi sampai mencela shahabat Rasulullah yang tidak termasuk Ahli Bait (keluarga dan keturunan beliau). Yang mana hal ini biasa dilakukan suatu kelompok syi'ah yang mengaku memiliki kecintaan yang sangat tinggi terhadap Ahli Bait (Keluarga Rasulullah), padahal kenyataanya tidak demikian.

    e. Adat Istiadat di Tanah Air
    Pada awal Muharram, yang sering dikenal dengan istilah 1 Suro, di tanah air sering diadakan acara ritual dan adat yang beraneka macam bahkan tidak jarang mengarah pada kesyirikan, seperti meminta berkah pada benda-benda yang dianggap keramat dan sakti, membuang sesajian ke laut agar Sang Dewi penjaga laut tidak marah dan lain sebagainya. Hal-hal semacam ini harus dihindari oleh setiap muslim dimanapun mereka berada. Rasulullah telah mengajarkan pada kita agar memiliki jati diri sebagai seorang Muslim dalam kehidupan. Jangan sampai seorang muslim mudah terbawa oleh budaya atau ritual agama lain dalam menjalankan ibadah pada Allah. Ajaran yang dibawa Rasulullah telah jelas dan sempurna tidak layak bagi kita untuk menambah atau menguranginya.
    Karena sebaik-baik pedoman adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk beliau, yang tidak ada keselamatan kecuali dengan berpegang kepada keduanya dengan mengikuti pemahaman para sahabat, tabi'in dan penerus mereka yang setia berpegang kepada sunnahnya dan meniti jalannya, adapun hal-hal baru dalam masalah agama adalah sesat sedangkan kesesatan itu akan menghantarkan ke neraka, naudzu billaah.

    Semoga kita selalu diberi taufiq dan dibimbing oleh Allah swt. Kejalan-Nya yang lurus serta mendapatkan keridhaan dan ampunany-Nya, amin ya rabbal 'alamin.

    , ,

    "Susun dan Sebar" dalam Retorika Al-Quran

    Taufik Munir



    LAFF WAN NASYR merupakan tehnik komunikasi klasik yang menitikberatkan pada penyusunan kalimat yang terdiri dari kata-kata untuk kemudian disebar satu persatu --baik secara beraturan atau tidak--, dengan satu keyakinan bahwa pendengar akan "merespon" dengan asumsi bahwa si 'pembicara' atau 'penulis' tahu dari indikasi-indikasi yang termaktub dalam lafaz atau maknanya.
    Kesimpulannya, Laff Wa Nasyr hanyalah menyebutkan dua hal atau lebih baik secara detail atau secara global. Kalau penyebutannya dengan detail berarti kita mengajukan dua hal atau lebih kemudian diurai satu persatu. Sedangkan kalau penyebutannya secara global saja, berarti anda cukup membuat satu kalimat saja tapi komprehensif (mengandung penafsiran lebih).
    Berdasarkan definisi tadi, Laff wa Nasyr terbagi pada dua bagian:

    BAGIAN PERTAMA: SUSUNAN TERPERINCI
    Susunan jenis ini ialah kata-kata yang disebar sedetail mungkin. Penyebaran kata tersebut juga ada yang beraturan (tartib) dan ada pula yang tidak beraturan (ghair tartib).
    Contoh penyebutan yang beraturan disebutkan dalam surah al-Qashash ayat 73.

    Dan karena rahmat-Nya, dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebahagian karunia-Nya (pada siang hari).

    Pada ayat ini Allah swt menyebutkan dua hal, yaitu siang dan malam. Allah swt memberitahu bahwa karena rasa kasih sayang-Nya kepada umat manusia Ia memberikan dua garis waktu yaitu siang dan malam. Untuk apa? Karena al-Quran menyebutkan dua hal tadi, maka jawabannya pun harus dua hal pula. Pertama, Allah menciptakan malam supaya kita bisa istirahat ("supaya kamu beristirahat padanya"). Kedua, Allah menciptakan siang supaya kamu bisa membuka aktifitas baru untuk mencari nafkah ("supaya kamu mencari sebahagian karunia-Nya").

    …dia jadikan untukmu malam     --> 1
    dan siang                                               --> 2
    supaya kamu beristirahat di malam itu                                 --> 1
    dan supaya kamu mencari sebahagian karunia-Nya --> 2

    Lihat, kata "malam" pada ayat di atas disebutkan pada urutan pertama. Lalu hikmahnya pun disebutkan pada urutan pertama. Sedangkan "siang" yang disebutkan pada urutan kedua, hikmahnya pun disebutkan pada urutan kedua. Tertib. Dengan demikian pembaca atau pendengar tidak perlu berfikir dua kali untuk menyatakan mana dipasangkan kemana, atau tertukar antara yang satu dengan yang lain.
    Contoh penyebutan yang tidak beraturan disebutkan dalam sebuah syair:

    Bagaimana aku bisa terhibur,
    sedangkan engkau seperti tumpukan pasir yang berkelok,
    bagai dahan, atau kijang betina
    kedip matanya, yang tinggi dan selalu membuntuti.

                Kedipan matanya ditujukan kepada 'kijang betina', 'yang tinggi' untuk 'dahan', dan 'membuntuti' untuk 'tumpukan pasir'.
               
    BAGIAN KEDUA: SUSUNAN GLOBAL
    Diterangkan di atas bahwa Laff wa Nasyr ada yang terbentuk secara terperinci, namun ada pula yang mujmal, alias globalnya saja.
    Kendatipun pada bagian kedua ini penyebutannya global, namun komplit. Itu artinya sekalipun lafalnya memang singkat, namun makna yang tersimpan mengandung kalimat yang 'sejodoh' dengan kata bentukannya.  
    Misalnya:

    Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata: "Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nasrani". (QS. Al-Baqarah: 111).

    Ayat ini menyebut tentang sesumbar dua kelompok penganut agama samawi selain Islam, yaitu Yahudi dan Nasrani. Kedua kelompok ini menyatakan bahwa tidak ada yang bakal masuk surga kecuali kelompok mereka. Masing-masing 'kekeuh' dengan pendapatnya sendiri.
    Pertanyaan yang timbul: dimana Laff wa Nasyr tipe kedua yang dimaksud? Indikasi adanya Laff wa Nasyr bisa dilacak dari adanya kataganti (dhamir) orang ketiga plural pada ayat tersebut, yaitu: "mereka". Mereka yang dimaksud tentu saja Yahudi dan Nasrani. Indikator kedua yaitu kata sambung "atau". Jadi kira-kira yang dimaksud ayat tersebut berbunyi:

    Dan Yahudi berkata:
    "Sekali-kali tidak akan masuk surga
    kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi",                          --> 1
    atau Nasrani berkata:
    "Sekali-kali tidak akan masuk surga
    kecuali orang-orang (yang beragama) Nasrani".            --> 2


    Padahal aslinya:
    "Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata..." dst.  

                Susunan diantara dua kalimat tadi digelar dengan singkat, tapi padat. Barangkali berangkat dari satu keyakinan bahwa pendengar pasti mampu menjawab kata-kata kedua kelompok tadi. Selain itu, sekalipun susunan kalimatnya singkat namun tetap aman dari ambiguitas. Alasannya, pendengar juga maklum perseteruan abadi dua kelompok tersebut yang saling menyesatkan satu sama lain dengan tuduhan klise bahwa selain kelompoknya tidak akan masuk surga. Wallahu a'lam #

    Terima kasih guruku, KH. Uuf Zaki Ghufron.


Top