,

    Dalam rangka untuk mensucikan hati dan diri dari segala dosa yang pernah diperbuat,manusia dianjurkan untuk menyesali perbuatan yang telah dilakukan dan tidak akan mengulangi lagi.

    Secara bahasa, taubat berarti kembali pada kebenaran. Secara istilah taubat ialah meninggalkan sifat dan kelakuan yang tidak baik, salah atau dosa dengan penuh penyesalan, dan berniat serta berusaha untuk tidak mengulangi kesalahan serupa. Dengan kata lain, taubat mengandung arti kembali kepada sikap, perbuatan atau pendirian yang baik dan benar. 
    Dengan demikian, taubat berarti datang atau kembalinya seseorang kepada Allah Swt. dengan perasaan menyesal atas dosanya di masa lalu serta bertekad untuk taat kepada-Nya.

    Menurut Sahal bin Abdillah At-Tustari, Taubat adalah mengganti perbuatan tercela dengan perbuatan terpuji. Hal ini tidak dapat terealisasi kecuali dengan menyadari terlebih dahulu bahaya dosa baik dunia maupun akhirat. Kesadaran inilah yang memunculkan rasa penyesalan atas dosa yang dilakukan.

    Syarat-syarat taubat adalah menyesali berbagai kesalahan yang pernah dikerjakan. Tandanya adalah lembutnya hati dan membanjirnya air mata, meninggalkan berbagai kesalahan pada setiap keadaan dan tempat. Keinginan keras untuk mengurangi perbuatan maksiat dan kesalahan yang dikerjakan.


    Dalil Naqli tentang Taubat 
    termaktub pada QS. Al-Baqarah [2] : 222

    Artinya ; Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang tobat dan mencintai orangorang
    yang suci (QS. al-Baqarah [2] : 222)

    Dalil yang lain termaktub pada QS. An-Nur [24]: 31

    Artinya: Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman
    supaya kamu beruntung. (QS. An-Nur [24] :31)

    Contoh Perilaku Taubat

    Di antara contoh dan tanda orang yang bertaubat adalah lebih berhati-hati dalam melakukan sesuatu disebabkan takut terjerumus lagi ke dalam dosa. Selain itu orang yang bertaubat akan lebih giat beramal karena merasa kawatir dosanya belum diampuni oleh Allah Swt. Adapun contoh perilaku taubat sebagai berikut:

    a. Ikhlas 
    artinya, taubat pelaku dosa harus ikhlas semata-mata karena Allah, bukan karena lainnya.
    b. Menyesali dosa yang telah diperbuatnya.
    c. Meninggalkan sama sekali maksiat yang telah dilakukannya.
    d. Tidak mengulangi artinya, seorang muslim harus bertekad tidak mengulangi perbuatan dosa tersebut.
    e. Istighfar yaitu memohon ampun kepada Allah atas dosa yang dilakukan terhadap hak-Nya.
    f. Memenuhi hak bagi orang-orang yang berhak, atau mereka melepaskan haknya tersebut.
    g. Waktu diterimanya taubat itu dilakukan di saat hidupnya, sebelum tiba ajalnya.
    Sabda Nabi Mahammad Saw. : 
    “Sesungguhnya Allah akan menerima taubat seorang hamba-Nya selama belum tercabut nyawanya.” (HR. At-Tirmidzi).


    Membiasakan Taubat dalam Kehidupan Sehari-hari.
    Taubat itu dilakukan setiap kita melakukan dosa, akan tetapi tentunya dosa yang berbeda.
    Bahkan kita harus bertaubat kepada Allah setiap saat karena mungkin saja ada dosa
    yang tidak terasa kita lakukan sehingga memerlukan pembersihan atau taubat.
    a. Biasakan agar selalu berstighfar sehabis salat lima waktu
    b. Meminta maaf apabila punyai kesalahan kepada orang lain
    c. Bersikap optimis, dinamis, selalu berpikir kritis,bekerja keras dan tidak mudah
    menyerah.


    Contoh Seorang Preman Bertaubat (kisah nyata ulama Baghdad):
    Sejak dini, aku hidup sebagai pemabuk, tersesat dan ahli maksiat. Menzalimi manusia,
    merampas harta orang lain, makan riba dan bahkan menggebuki orang adalah pekerjaan
    harianku. Tak ada hari dalam hidupku tanpa berbuat zalim terhadap manusia. Nyaris
    semua bentuk maksiat pernah aku lakukan. Bahkan terkadang orang-orang yang tinggal
    di sekitarku ngeri mendengar namaku.
    Pada suatu hari, aku sangat ingin menikah karena merindukan punya anak yang akan
    menghibur kehidupanku yang amat keras itu. Lalu aku menikahi seorang gadis di kotaku
    (Baghdad) dan setelah hampir setahun istrikupun melahirkan seorang bayi wanita
    yang amat mungil lagi cantik. Bayi itu kuberi nama “Fatimah”.
    Entah bagaimana, aku amat mencintai Fatimah, bahkan melebihi orang lain di sekitarku.
    Semakin Fatimah tumbuh dengan sehat, imanku semakin tumbuh pula dalam hatiku
    dan maksiat semakin berkurang dalam kehidupanku. Suatu hari, saat aku memegang
    gelas yang isinya khamar (minuman yang memabukkan), Fatimah melihatnya. Ia
    mencoba mendekatiku dan menghalangi aku meminum khamar tersebut. Aku tidak tahu kenapa Fatimah bisa melakukan hal itu. Pasti, Allahlah yang membuat Fatimah bisa berbuatseperti itu.
    Fatimah semakin besar. Imanku semakin bertambah dalam hatiku. Setiap aku
    mendekatkan diri pada Allah satu langkah, maka seperti itu pula aku menjauh dari maksiat.
    Kondisi seperti itu terus berlanjut sampai Fatimah berusia tiga tahun. Saat memasuki
    usia tiga tahun, tanpa sebab sakit sedikitpun, Fatimah meninggal dunia.
    Akupun bertekad untuk mabuk dan minum khamar sebanyak-banyaknya. Sepanjang
    malam itu kerjaku hanya minum dan minum khamar. Saat aku teler dan kemudian ketiduran, tiba-tiba aku bermimpi. Dalam mimpiku, aku sedang menghadapi sebuah peristiwa besar, yakni kiamat. Matahari tidak lagi memberikan cahayanya ke bumi. Laut berubah menjadi api raksasa. Di bumi terjadi gempa yang amat dahsyat. Semua manusia berkumpul di padang mahsyar. Manusia sangat banyak dan hilir mudik bergelombang-gelombang.
    Aku adalah salah satu di antara mereka.
    Tiba-tiba, aku mendengar suara orang yang memanggil Fulan bin Fulan. “Ayo segera
    menghadap yang Maha Perkasa”. Saat itu aku melihat ada orang yang hitam pekat wajahnya karena sangat ketakutan. Tak lama kemudian, aku mendengar suara memanggil
    namaku sambil berkata : “Ayo, segera kamu menghadap kepada yang Maha Perkasa”.
    Tiba-tiba saja semua manusia sangat banyak itu menghilang dari sekelilingku. Tinggal
    aku sendiri di tengah padang mahsyar yang amat luas itu.

    ,

    Pergaulan merupakan proses interaksi yang dilakukan oleh individu dengan individu lainnya. Pergaulan juga bisa dilakukan oleh individu dengan kelompok. Sebagai makluk sosial, manusia pasti berinteraksi dengan manusia lain. Pergaulan berpengaruh besar dalam pembentukan kepribadian seorang. Dengan begitu, pergaulan akan mencerminkan kepribadiannya. Jika pergaulannya positif maka kepribadiannya pun positif. Sebaliknya jika pergaulannya adalah pergaulan yang negatif maka kepribadiannyapun juga negatif.

    Remaja (adolensence) berarti tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa. Masa remaja menunjukkan dengan jelas sifat transisi atau peralihan karena remaja belum memperoleh status dewasa dan tidak lagi memiliki status anak. Masa remaja berlangsung antara umur 12 tahun sampai dengan 21 tahun bagi wanita dan 13 tahun sampai dengan 22 tahun bagi pria. Dalam masa ini anak mengalami masa pertumbuhan dan masa perkembangan fisiknya maupun perkembangan psikisnya. Mereka bukanlah anak-anak baik bentuk badan ataupun cara berpikir atau bertindak, tetapi bukan pula orang dewasa yang telah matang.

    Pada masa ini terjadi proses pematangan baik itu pematangan fisik, maupun psikologis.
    Masa remaja merupakan masa yang sangat penting, sangat kritis dan sangat rentan, karena bila manusia melewati masa remajanya dengan kegagalannya, dimungkinkan akan menemukan kegagalan dalam perjalanan kehidupan pada masa berikutnya. Sebaliknya bila masa remaja itu diisi dengan penuh kesuksesan, kegiatan yang sangat produktif dan berhasil guna dalam rangka menyiapkan diri untuk memasuki tahapan kehidupan selanjutnya, dimungkinkan manusia itu akan mendapatkan kesuksesan dalam perjalanan hidupnya. 

    Dengan demikian, masa remaja menjadi kunci sukses dalam memasuki tahapan kehidupan selanjutnya. Pada masa ini (masa remaja), manusia banyak mengalami perubahan yang sangat fundamental dalam kehidupan baik perubahan fisik dan psikis (kejiwaan dan mental).
    Dalam usia remaja ini biasanya seorang sangat labil, mudah terpengaruh, suka mencoba, rasa ingin tahu yang tinggi terhadap sesuatu yang baru yang mungkin diketahui apakah itu baik atau tidak. Oleh sebab itu, ramaja harus berhati-hati dalam melakukan pergaulan. Jangan sampai terjebak pada pergaulan yang negatif.

    Menerapkan Akhlak Terpuji dalam Pergaulan Remaja
    Dalam pergaulan sehari-hari di tengah masyarakat, seorang remaja harus memiliki prinsip yang kuat di antaranya ;

    1. Memiliki kemampuan controlling dan membawa diri di mana berada. Sesuai yang disabdakan Rasulullah Saw. dalam hadis yang artinya "Bertaqwalah dimanapun kamu berada."
    2. Mencari kawan yang saleh dan dapat memotivasi untuk mengembangkan kemampuan diri.
    3 Mengembangkan sikap konsisten, disiplin, bertanggung jawab terhadap semua tugas yang diemban sehingga dapat mempersiapkan masa depan yang gemilang.
    4. Mengembangkan kemampuan diri untuk mencapai prestasi ataupun kematangan diri sehingga memiliki kemampuan dan modal yang cukup untuk menyongsong masa depan.
    5. Tidak mudah larut dalam kesenangan dan pergaulan bebas, karena kebiasaan ini akan menguras segala kemampuan dan dapat menghancurkan masa depan.
    6. Menutup aurat dan berbusana sepantasnya sesuai dengan norma-norma sosial, adat dan agama.

    Contoh-contoh Pergaulan Remaja yang tidak sesuai dengan Akhlak Islam
    Usia remaja adalah usia pencarian jati diri (identitas diri). Pada usia ini, remaja menghadapi dua hal penting, yakni dirinya sendiri dan dunia luar (external) seperti lingkungan.
    Di antara dua hal tersebut, terkadang terjadi keserasian atau bahkan kontradiksi. Dalam menghadapi dua hal tersebut, remaja terkadang terjebak dalam kecemasan, ketidakpastian, dan kebingungan. Hal seperti inilah yang biasanya menyebabkan remaja jatuh kepada perilaku yang membahayakan dirinya atau orang lain. Oleh sebab itu, remaja harus mendapatkan bimbingan, contoh dan pendidikan yang baik sesuai dengan akhlak Islam.

    Akhir-akhir ini sering terdengar di berbagai media massa tentang perilaku remaja yang menyimpang, yang tidak sesuai dengan akhlak Islam, seperti perkelahian massal antar remaja, perusakan bus kota, perampokan bus, penodongan, penyalahgunaan narkoba, obat terlarang, pemerkosaan, pembunuhan, pelacuran, perzinaan dan sebagainya.

    Menghindari perbuatan-perbuatan menyimpang tersebut merupakan tugas remaja dan kita semua untuk mengarahkan, menasihati dan membimbing mereka ke perbuatan-perbuatan yang baik. Oleh sebab itu, setiap remaja harus mawas diri dengan cara mengindari perilaku-perilaku negatif seperti berikut:

    1. Bermalas-malas dan suka menunda pekerjaan. 
    2. Mementingkan bermain atau santai daripada belajar.
    3. Suka keluyuran atau menghabiskan waktu tanpa agenda dan tujuan yang jelas.
    4. Ragu-ragu atau bimbang dalam memutuskan sesuatu.
    5. Sering mengecilkan kemampuan dan potensi diri sendiri.
    6. Mudah larut dalam berbagai kesenangan tanpa perhitungan akibatnya.
    7. Kecenderungan untuk mengabaikan segala kebiasaan yang baik.
    8. Munculnya praktik hidup sehari-hari dengan gaya hidup penuh santai, dudukduduk di pinggir jalan, bermain dalam memakan waktu yang lama hingga melupakan tugas pokok sebagai anak dan pelajar, bersenda gurau berlebihan, menonton TV berlebihan, serta menonton hiburan yang bersifat hura-hura dan tidak mendidik.

    Contoh Akhlak Terpuji dalam Pergaulan Remaja
    Dalam bergaul, etika atau akhlakpun juga harus diperhatikan. Etika yang buruk dalam bergaul akan merusak pergaulan. Etika yang baik akan memperkuat dan membuat baik pergaulan tersebut. Berikut ini adalah contoh akhlak terpuji dalam:

    1. Ta’aruf dan Tafahum
    Ta'aruf adalah saling mengenal dan mengetahui. Seorang remaja harus mengetahui dan mengenal temannya. Mengetahui namanya, sifat-sifatnya, kebiasaan-kebiasaannya dan kondisi kehidupannya. Setelah mengetahui itu semua, seornag remaja pun harus saling memahami itu semua. Seperti contoh di bawah ini:

    Ahmad sedang susah dalam menghadapi persoalan hidupnya. Ia kesulitan dengan biaya sekolahnya, orang tua Ahmad miskin, mau bekerja canggung karena tidak memiliki bekal ilmu yang memadai, tapi ia mempunyai teman yang kaya dan baik hati, Teman tersebut mengetahui kondisi Ahmad ia memberi kesempatan kepada Ahmad untuk bekerja di sore hari setelah pulang sekolah di perusahaan ayahnya.

    Dengan demikian ia dapat membantu mengatasi persoalan hidup yang dihadapi Ahmad.

    2. Contoh Ta’awun (saling tolong menolong dalam kebaikan ) dan Tasamuh (toleran)

    Adapun contoh tolong-menolong dalam kebaikan adalah:

    a. Meringankan beban hidup, menutupi aib, dan memberikan bantuan kepada seseorang. 
    Seperti Hadis Nabi Muhammad Saw. berikut ini:
    Artinya: Barangsiapa melapangkan seorang mukmin dari suatu kesulitan dunia maka Allah akan melapangkannya dari kesusahan pada hari kiamat. Barangsiapa yang meringankan suatu penderitaan seseorang maka Allah akan meringankan penderitaannya di dunia dan akhirat. Dan barang siapa yang menutupi aib seorang muslim maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat. Allah akan selalu memberi pertolongankepada seseorang selama orang tersebut suka menolong saudaranya (HR. Abu Daud)

    b. Mengunjungi saudaranya pada saat dia sakit, seperti Hadis Nabi berikut ini :
    Artinya: Hak muslim atas muslim lainnya ada lima macam, menjawab salam, mengunjungi orang yang sakit, mengiringi jenazah kekuburnya, memenuhi undangan dan mendoakan orang yang bersin (HR. Bukhari).

    Adapun contoh Tasamuh dalam kehidupan sehari-hari adalah :
    a. Tidak mengganggu ketenangan tetangga.
    b. Tidak melarang tetangga yang ingin menanam pohon di batas kebunnya.

    Hadis Nabi Muhammad Saw. yang berbunyi :
    Artinya : 
    Janganlah kamu melarang tetangga menanam tanaman di kebunnya (HR. Bukhari).

    Menyukai sesuatu buat tetangganya sebagaimana ia menyukai buat dirinya sendiri.

    Hadis Nabi Saw. yang berbunyi :
    Artinya : 
    Demi Zat yang aku berada dalam kekuasaan-Nya Tidaklah seorang beriman sehingga ia menyukai tetangganya sebagaimana ia menyukai dirinya sendiri. (HR Muslim).

    3. Contoh jujur dan adil
    a. Jika diminta untuk jadi saksi dalam suatu perkara kita harus mengatakan apa adanya/yang sebenarnya.
    b. Tidak berlaku curang hanya karena didorong rasa benci dan tidak senang kepada orang tersebut.

    4. Contoh amanah dan menempati janji.
    Menempati janji berarti berbuat sesuatu sesuai dengan janji yang telah diucapkan, orang yang tidak menempati janji disebut ingkar janji. Oleh sebab itu jika berjanji dengan orang lain tentang sesuatu maka hendaklah ditepati, karena berjanji dengan orang lain pada hakikatnya adalah juga berjanji kepada Allah Swt. 

    Dengan memahami ajaran Islam mengenai akhlak terpuji dalam kehidupan sehari-hari yang meliputi pergaulan remaja, maka seharusnya kita memiliki sikap sebagai berikut :
    1. Bisa Mempraktikkan sikap-sikap pergaulan remaja dalam kehidupan sehari-hari.
    2. Membiasakan berperilaku baik dengan sesama teman, guru, dan orangtua.
    3. Bisa menjadi teladan bagi orang lain dari segi sikap pergaulan remaja yang baik

    ,

    At-Tabdżīr artinya pemecah-belahan, sebagai mashdar dari bażżara - yubadzziru - tabziran.
    Makna aslinya, melempar bibit. Kata ini juga dipakai untuk
    mengatakan segala bentuk penyia-nyiaan harta. “bażżara maalahu” artinya ia merusak hartanya atau membelanjakannya secara berlebihan. Juga dipakai untuk menyebutkan segala bentuk pemecah-belahan harta dan perusakan harta, maka ia dikatakan “badżżarahu”.

    Al-Mubāżżir artinya orang yang berlebih-lebihan dalam membelanjakan harta. Dan asal makna dari kata ini menunjukkan pada sikap perusakan terhadap sesuatu dan pemecah-belahan terhadapnya.

    Sedangkan pengertian tabżir adalah membelanjakan harta tidak sesuai dengan hak (peruntukan) harta tersebut atau tidak layak menurut ketentuan syariat. Dengan demikian semua bentuk penggunaan harta untuk perbuatan haram atau makruh menurut syariat adalah perbuatan tabżir. Orang yang
    melakukannya disebut mubāżżir. Contoh membeli alat untuk melakukan kejahatan, atau membelajakan harta untuk sesuatu yang sama sekali tidak ada manfaatnya secara agama, maka termasuk mubāżżir.

    Dengan demikian, bukanlah termasuk perbuatan tabżir tindakan membelanjakan harta sebanyak
    apapun jumlahnya untuk kebaikan yang disyariatkan agama.

    Pendapat lain menyatakan bahwa tabżir adalah membagi-bagikan harta dalam bentuk yang termasuk berlebih-lebihan. Dengan pengertian ini berarti perbuatan isrof adalah termasuk tabżir.

    Dalam bahasa Indonesia tabżir biasanya diartikan boros yaitu suatu
    perbuatan yang dilakukan seorang dengan cara berlebih-lebihan atau
    menghambur-hamburkan sesuatu karena kesenangan atau kenikmatan sesaat.
    Perbuatan mubāżżir termasuk sangat tercela, sehinga digambarkan oleh al-
    Quran sebagai saudara syetan, karena ada kesamaan sifat dengan sifat syetan
    yang selalu melakukan bertentangan dengan aturan syariat. Orang yang
    mubāżżir membelanjakan sesuatu tidak sesuai dengan aturan syariat.

    b. Dalil tentang Tabżir
    Tentang larangan bersikap tabdzir, Allah SWT berfirman dalam surat al
    Isra’ ayat 26-27:

    26. Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya,
    kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu
    menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.
    27. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah Saudara-saudara syaitan
    dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.

    c. Bentuk dan Contoh-contoh Perbuatan Tabżir
    Bentuk perbuatan tabżir diantaranya ; Menghambur-hamburkan harta kekayaan. Allah SWT. menjelaskan bahwa orang yang boros itu saudara syetan. Di dunia mereka tergoda syetan sedangkan di akhirat masuk neraka.

    Allah SWT. juga menjelaskan bahwa syetan itu sangat ingkar kepada Allah artinya membangkang atas apa yang diperintahkan dan menggoda manusia untuk melakukan perbuatan yang keji dan munkar.

    Persamaan syetan dengan pemboros adalah sama-sama ingkar terhadap ni’mat Allah SWT. Apabila seseorang yang menggunakan nikmat yang diberikan Allah SWT. kepada-Nya untuk dihambur-hamburkan contoh adat kebiasaan Bangsa Arab pada masa Jahiliyah, mereka gemar menumpuk-numpuk harta untuk berfoya-foya, sesuka hari mereka dengan melampiaskan hawa nafsu untuk menuruti bisikan syaetan yang menyesatkan. Sedangkan contoh lain ; orang-orang musyrik menggunakan harta kekayaannya untuk memerangi kaum muslimin menghalangi tersebarnya agama Islam, sehingga hidupnya menjadi sengsara.

    ,

    Al Isrāf adalah adalah lebih dari tujuan. Dari fi’il asrafa – yusrifu- israfan. As Saraf isim (mashdar) darinya juga. “asrafa fi maalihi” artinya bersegera (mengeluarkan harta) tanpa tujuan. Dan asal makna dari kata ini menunjukkan pada sikap melebihi batas dan sembrono dalam melakukan sesuatu.

    Beberapa pendapat tentang pengertian israf adalah sebagai berikut;
    - membelanjakan / memberikan sesuatu untuk hal yang tidak selayaknya sebagai tambahan atas apa yang selayaknya.
    - membelanjakan harta yang banyak untuk tujuan yang sangat sedikit.
    - melebihi batasan dalam pembelanjaan harta.
    - seseorang memakan harta yang tidak halal baginya atau memakan yang halal baginya memlebihi batas dan melebihi kadar kebutuhan.
    - Sebagian pendapat menyatakan, artinya melebihi kuantitas yang normal, karena tidak memahami batasan kuantitas yang menjadi haknya

    Dengan demikian pengertian Isrāf adalah tindakan seseorang yang melampauhi batas yang telah ditentukan oleh syariat. Orang yang membasuh wajah ketika berwudlu melebihi tiga basuhan berarti termasuk isrof/ berlebihan, karena ketentuan yang disunatkan hanya tiga basuhan yang merata. 

    Namun pengertian isrāf biasanya sering digunakan dalam hal membelanjakan harta, bukan pada masalah ibadah. Misalkan membelanjakan harta untuk makan, minum, pakaian dan berkendara yang berlebihan melebihi batas kewajaran dan kepatutan.

    Pada kehidupan modern, sifat melampaui batas (berlebihan) itu mengancam masa depan umat manusia, terutama kalangan generasi mudanya. 

    Nabi Muhammad saw, bersabda yang artinya “Binasalah orang-orang yang melampaui batas (berlebihan)”. (HR.Muslim)

    Dalil tentang Isrāf
    Al-Qur'an surat Al-Furqaan ayat 67. ALlah SWT. berfirman:

    Artinya ;
    dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengahtengah antara yang demikian. (QS.al-Furqaan :67)

    Rasulullah saw bersabda:

    Artinya : “Dari Umar bin Syuaib, dari bapaknya, dari kakeknya ia berkata, Rasululloh saw bersabda; Makanlah dan minumlah, bersedekahlah, berpakaian dan tanpa berlebih-lebihan dan tidak sombong (dikeluarkan HR.Abu Dawud dan Ahmad).

    Ayat dan hadits ini menunjukkan bahwa kita diperintahkan untuk bersifat sedang-sedang saja dalam membelanjakan harta benda, tidak boleh berlebihan dan tidak boleh terlalu irit.

    ,

    Menurut bahasa kata bakhil adalah al-bukhlu 
    (البخل) yang artinya menahan sesuatu.
    Sedangkan menurut istilah bukhl adalah perbuatan seseorang menahan/ tidak memberikan sesuatu yang semestinya wajib diberikan kepada
    orang lain, baik wajib secara agama maupun wajib secara kepatutan menurut adat. Orang yang tidak mau membayar zakat, tidak memberi nafakah kepada keluarga disebut bakhil, karena secara agama zakat dan nafakah adalah wajib.

    Demikian juga orang kaya raya yang memberi nafkah yang sedikit kepada keluarganya, atau barang yang jelek menurut masyarakat termasuk oaring bakhil.

    Prilaku bakhil seperti ini muncul karena terlalu cinta kepada dunia. Ia meyakini harta bendanyalah yang akan menyelamatkan di dunia maupun di akhirat. Padahal harta yang sesungguhnya adalah harta yang ia sedekahkan kepada orang lain. Harta yang hanya dinikmati sendiri akan lenyap seiring
    dengan hilangnya kenikmatan di dunia. Sedangkan harta yang disedekahkan akan kekal nikmatnya kelak di akhirat.

    Orang bakhil merasa sayang terhadap hartanya untuk diberikan kepada orang lain, apalagi berkorban demi kebahagiaan orang lain. Orang bakhil kadang keterlaluan, hingga kikir terhadap keperluan dirinya sendiri, hawatir hartanya berkurang. Karena itu sungguh buruk di mata masyarakat prilaku
    orang kikir, sehingga dijauhi masyarakat.

    Sebagaimana disebutkan di atas, bahwa bakhil disebakan karena cinta dunia, sedangkan cinta dunia disebkan karena dua hal, yaitu; mencintai kesenangan dunia, dan merasa senang terhadap harta di tanganya. 

    Maka cara menghindari sikap bakhil dengan cara antara lain;
    - Sabar terhadap sikap sederhana
    - Menerima terhadap apa yang dimiliki.
    - Banyak mengingat mati, agar tidak terlalu panjang angan-angannya.
    - Merenungkan terhadap orang-orang kaya yang meninggal, ternyata harta kekayaannya tidak dibawa namun ditinggal begitu saja dan dinikmati ahli warisnya yang belum tentu mengingatnya lagi.
    - Merenungkan betapa buruknya prilaku orang-orang yang baklhil di sekitar kita.
    - Merenungkan hadits yang mengecam prilaku bakhil dan memuji-muji prilaku dermawan.
    - Menayti bahwa maksud dan tujuan harta adalah untuk memenuhi sekedar kebutuhan hidupnya, sisanya adalah untuk simpanan dirinya kelak di akhirat dengan cara disedekahkan.

    Dengan memperhatikan sikap seperti ini, maka akan mudah bersikap
    dermawan sehingga terhindar dari sikap bakhil.

    c. Dalil tentang bakhil

    Dalil naqli tentang bakhil sebagai berikut ;

    8. dan Adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup,
    9. serta mendustakan pahala terbaik,
    10. Maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar.
    11. dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa. (QS.Al-Lail. 8-11)

    Dalil lainnya:

    Ingatlah, kamu ini orang-orang yang diajak untuk menafkahkan (hartamu) pada jalan Allah. Maka di antara kamu ada yang kikir, dan siapa yang kikir Sesungguhnya Dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri. dan Allah-lah yang Maha Kaya sedangkan kamulah orang-orang yang berkehendak (kepada-Nya); dan jika kamu berpaling niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain; dan mereka tidak akan seperti kamu ini. (QS.Muhammad: 38)

    Allah mencela orang-orang yang tidak mau menginfakkan hartanya di jalan yang telah diperintahkan Allah, seperti untuk berbuat baik kepada orang tua, kerabat karib, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat, tetangga yang jauh, ibnu sabil dan hamba sahaya. Mereka pun tidak mengeluarkan hak Allah yang terdapat dalam harta.

    d. Akibat bakhil
    Bakhil tidak hanya mendatangkan kerugian di dunia semata, namun di akhirat pun orang bakhil akan mendapat azab karena kebakhilannyan tersebut.

    Di antara akibat yang ditimbulkan oleh bakhil adalah :
    1. Akan sulit mendapatkan kebahagiaan.
    2. Hina di hadapan orang lain.
    3. Orang yang bakhil akan tersiksa jiwanya, karena selalu memikirkan
    bagaimana cara agar hartanya bertambah.
    4. Hartanya tidak bermanfaat karena hanya ditumpuk saja. Bahkan orang
    yang sangat bakhil tidak mau hartanya berkurang sedikitpun, walau
    sekedar memenuhi kebutuhannya sendiri.
    5. Pada hari kiamat kelak, harta yang ditumpuknya akan dikalungkan di
    lehernya sebagai balasan atas kebakhilannya.
    6. Harta yang ditumpuknya tidak bermanfaat sama sekali dihadapan Allah,
    melainkan hanya akan mendatangkan kerugian baginya.
    7. Kehancuran yang disebabkan peperangan sesama manusia, sebagai mana
    yang telah menimpa umat-umat terdahulu.

    ,

    Tamak adalah mengharapkan apa yang dipunyai orang lain dengan tanpa hak. Orang tamak selalu mengharap pemberian orang lain, dengan tanpa alasan. 

    Jika mengharap sesuatu dari orang lain karena ada alasan yang benar, misalnya mengharap upah dari transaksi sewa, jasa, jual beli dan sebagainya maka bukan termasuk sikap tamak. Sikap seperti ini didorong oleh perasaan tidak puas terhadap apa yang dimiliki. Tidak yakin bahwa semua sudah diatur dengan qoḍā’ dan takdir Allah SWT. Sehingga harapannya digantungkan kepada orang lain bukan kepada Allah SWT. Orang yang tamak selalu merasa bahwa harta kekayaan yang dimilikinya selalu kurang dan tidak mau bersyukur kepada Allah SWT.

    Orang yang tamak tidak pernah hidup dengan puas, damai dan tentram.
    Ia selalu gelisah karena dipermainkan oleh keinginan-keingianan yang tidak
    pernah putus. Akibatnya hidupnya diperbudak oleh keinginan dunia sehimgga
    menjadi hina dan dipandang rendah oleh masyarakat.
    Sikap tamak juga muncul karena tidak merasa puas terhadap apa yang
    ada, dan tidak bisa menerima terhadap kesederhanaan dalam makan, minum
    dan berpakaian. Keinginannya terlalu tinggi dari kemampuannya. Sehingga
    mendorong sikap mengharap pemberian orang lain, meminta, bahkan
    merendahkan diri dihadapan orang kaya demi mendapatkan sesuatu. Tidak
    mau berusaha dan bekerja dengan optimal, lebih suka berpangku tangan.

    b. Dalil-Dalil Tentang Tamak
    Dalam Al-Qur’an, terdapat keterangan masalah rakus atau tamak, antara lain pada surah Al-Baqarah ayat 96 yaitu :

    Artinya : “ Dan sungguh kamu akan mendapati mereka, manusia yang paling loba kepada kehidupan (di dunia), bahkan (lebih loba lagi) dari pada orang musyrik. Masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya dari siksa Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al-Baqarah : 96)

    Begitu juga dalam hadits, antara lain disebutkan:

    Artinya: 
    Rasulullah saw bersabda: Hai manusia, berbaik-baiklah dalam mencari (nafkah); karena sesungguhnya hamba tidak mendapatkan (sesuatu), kecuali apa yang telah ditakdirkan padanya.” (HR. Al-Ḥākim).

    Hadits ini menjelaskan bahwa semua yang diterima oleh manusia sudah diatur dan sudah ditetapkan olah Allah SWT, karena itu tugas manusia adalah memperbaiki usaha/pekerjaan yang dilakukannya sesuai aturan Allah SWT, sehingga prilaku dalam bekerjanya teratur dan indah.

    c. Cara menghindar dari sifat tamak
    Pada dasarnya manusia memiliki sifat tidak puas. Karena itu mudah bersikap tamak. 
    Agar terhindar dari sikap tamak, maka perlu melakukan hal-hal sebagai berikut ;

    1. Bersikap sederhana dalam kehehidupan, berpakaian, makan dan minum. Orang yang bermewah-mewah dalam hidup maka akan besar pengeluaran. Orang yang pengeluarannya besar maka sulit bersikap qanaah. Hal ini akan mendorong bersikap mengharap apa yang dipunyai orang lain.
    2. Memantapkan keyakinan bahwa rizki yang ditakdirkan Allah pasti akan sampai pada dirinya sekalipun tidak serakah.
    3. Menyadari bahwa pada sikap qanāāh terdapat kemuliaan dan harga diri, dan pada sikap tamak dan serakah menimbulkan kehinaan di mata orang lain.
    4. Banyak merenungkan keburukan prilaku orang-orang yang tamak dan serakah, serta merenungkan cerita kebaikan prilaku para wali dan para nabi yang mulia itu. Kemudian menentukan pilihan, kepada siapakah kita akan meneladani. Sehingga dengan demikian kita akan merasa ringan bersikap sederhana dan menerima apa yang dimiliki. Tidak menginginkan apa yang ada pada orang lain.
    5. Dalam urusan dunia, memandang orang yang lebih rendah, dan memandang kepada oang yang lebih tinggi dalam urusan akhirat.

    ,


    Secara bahasa serakah berarti selalu hendak memiliki lebih dari yang dimiliki. Sedangkan menurut istilah serakah adalah suatu perbuatan seseorang tidak pernah merasa cukup dengan apa yang dimiliki, sehingga terdorong menghalalkan segala cara untuk menambah apa yang dimilikinya. 

    Orang serakah tidak pernah merasa cukup dengan apa yang dimilikinya. Dia selalu merasa kurang. Meskipun dia mempunyai uang, kedudukan, dan banyak kelebihan yang dimiliki, dia tetap merasa kurang. Akhirnya, dengan keserakahannya dia selalu berusaha mendapatkan apa yang dimiliki orang lain.


    Bagaimanapun caranya dia berusaha menempuhnya. Manusia memiliki sifat serakah dan tidak pernah merasa puas dengan apa yang sudah dimilikinya.Serakah akan berakhir bila manusia sudah masuk dalam liang kubur.

    Adapun ciri-ciri orang serakah, antara lain tidak mau berbagi atau pelit, selalu menginginkan bagian paling banyak, rakus terhadap dunia, tidak peduli terhadap kepentingan dan penderitaan orang lain.

    Sifat serakah muncul karena terlalu cinta dunia dan memiliki angan-angan
    yang panjang hingga terlalu memikirkan nasib anak keturunannya. Keinginan
    satu telah tercapai namun masih menginginkan terus yang lebih besar dari
    yang didapatkan. Keinginannya terhadap duniawi tidak pernah berhenti. Ia
    menganggap bahwa kekayaannya akan mengekalkan hidupnya. Padahal hidup
    di dunia itu terbatas. Semua yang difikirkan ditujukan untuk kesenangan di
    dunia. Tidak sadar bahwa dunia akan berakir dan berganti alam akhirat. Di
    alam akhirat kelak, tidak ada gunanya lagi harta kekayaan yang ditumpuk
    selama di dunia, bahkan akan menambah kesengsaraan karena beratnya
    hisab/ perhitungan amal dan kekayaan oleh Allah. Setiap kekayaan yang
    dianugrahkan oleh Allah kepadanya, akan diminta pertanggungjawaban dan
    ditanyakan; dari mana kekayaannya dulu di dapatkan dan untuk apa harta itu
    dibelanjakan. Jika ia bisa menjawab dengan baik dan benar, maka selamatlah
    ia, dan jika tidak bisa mempertangungjawabkan maka kekayaannya akan
    melemparkan ia ke dalam neraka.

    Jika pemahaman seperti ini masuk dalam keyakinan diri seseorang, maka orang tersebut tidak akan serakah. Ia akan hati-hati dalam bekerja untuk mendapatkan harta, dan tidak sembarangan dalam membelajakannya. Takut kalu kekayaannya justru menjadi fitnah kelak di akhirat. Allah SWT. telah mengingatkan bahayanya mengumpulkan harta kekayaan dalam surat Humazah sebagai berikut;

    1. Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela,
    2. Yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitung,
    3. Dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengkekalkannya,
    4. Sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke
    dalam Huthamah.
    5. Dan tahukah kamu apa Huṭamah itu?
    6. (yaitu) api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan,
    7. Yang (membakar) sampai ke hati.
    8. Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka,
    9. (sedang mereka itu) diikat pada tiang-tiang yang panjang.

    Yang dimaksud dengan mengumpulkan harta adalah mengumpulkan dan menghitung-hitung harta yang karenanya dia menjadi kikir dan tidak mau menafkahkannya di jalan Allah. Ayat ini menunjukkan larangan mengumpulkan kekayaan. Hal ini karena didorong oleh pemahaman yang salah bahwa harta kekayaan itulah yang mengekalkannya. Padahal tidaklah demikian.

    b. Dalil tentang serakah
    Dalam Al-Qur’an, terdapat penjelasan masalah serakah, antara lain pada surah Al-Baqarah ayat 96 yaitu :

    dan sungguh kamu akan mendapati mereka, manusia yang paling loba kepada kehidupan (di dunia), bahkan (lebih loba lagi) dari orang-orang musyrik. masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun, Padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya daripada siksa. Allah Maha mengetahui apa yang mereka kerjakan. (QS.Al-Baqarah: 96)

    c. Cara menghindari Serakah
    Ada beberapa hal yang dapat dilakukan agar terhindar dari sifat serakah, diantaranya;

    - Memantapkan keyakinan bahwa hidup di dunia ini tidak kekal, tapi terbatas dan singkat, dan hidup yang sesungguhnya adalah hidup di akhirat yang kekal.
    - Memantapkan keyakinan bahwa semua harta kekayaan akan diminta pertanggungjawaban kelak di akhirat.
    - Membiasakan diri mensyukuri setiap karunia dari Allah SWT., dengan cara mengunakannya untuk hal yang diridloi Allah SWT.
    - Menanamkan dalam hati sifat qonāāh, menerima pemberian Allah.
    - Tidak membanding-bandingkan nikmat yang dimiliki orang lain dengan diri sendiri
    - Mengingat azab Allah SWT, bagi orang yang memiliki sifat serakah 
    - Tidak melupakan kehidupan akhirat yang lebih kekal atau abadi. 


Top