TERLARIS
-
Imam al-Ghazāli mendefinikan qalb, ruh, nafsu dan akal adalah istilah yang serupa tapi tidak sama. Tidak jarang orang memberi makna yang sal...
-
Bersyukur kepada Allah pada hakikatnya didasarkan atas pengakuan kita bahwasannya segala kenikmatan yang ada pada diri kita dan semua makhlu...
-
M a drasah yang unggul dapat dipahami sebagai Madrasah yang memiliki input dan output pendidikan yang tinggi dengan daya dukung sarana da...
-
At-Tabdżīr artinya pemecah-belahan, sebagai mashdar dari bażżara - yubadzziru - tabziran. Makna aslinya, melempar bibit. Kata ini juga dipak...
-
Inilah Daftar Kolektif Nilai Ujian Akhir Madrasah Berstandar Nasional (UAMBN) tahun pelajaran 2015/2016, Program Studi: Ilmu Pengetahuan Ala...
-
Inilah Hasil Rapat Pleno Kelulusan Tahun 2017 bagi kelas XII Bidang Studi IPA, IPS, dan AGAMA. Kesuksesan serta masa depan yang cera...
-
Inilah Hasil Rapat Pleno Kelulusan Tahun 2017 bagi kelas XII Bidang Studi IPA, IPS, dan AGAMA. Kesuksesan serta masa depan yang cerah...
-
Inilah Hasil Rapat Pleno Kelulusan Tahun 2017 bagi kelas XII Bidang Studi IPA, IPS, dan AGAMA. Kesuksesan serta masa depan yang cerah...
-
Secara bahasa serakah berarti selalu hendak memiliki lebih dari yang dimiliki . Sedangkan menurut istilah serakah adalah suatu perbuatan ses...
-
Saifullah, S.Ag (Wakamad Bidang Kesiswaan): "Hidup Harus Punya Iman dan Prinsif" Saya lahir di Tangerang tanggal 7 Agustus tahun...
Category
MENU
Mengenai Saya
- MAN 3 TANGERANG
- Sukadiri, Tangerang, Indonesia
- MADRASAH yang unggul dapat dipahami sebagai Madrasah yang memiliki input dan output pendidikan yang tinggi dengan daya dukung sarana dan prasarana yang lengkap serta tenaga kependidikan yang Profesional. Usaha ini penting dilakukan agar asumsi tentang madrasah sebagai “sekolah kelas II” dapat segera hilang, serta minat masyarakat untuk memasuki dunia madrasah makin tinggi. MAN 3 TANGERANG bukanlah sekolah yang dikelola asal jalan, output yang asal jadi, serta dibimbing dengan sejumlah guru yang asal ada. MAN 3 TANGERANG merupakan sekolah unggul, karena: 1. Ketersediaan tenaga kependidikan yang profesional. 2. Kelengkapan sarana dan prasarana. 3. ditangani dengan sistem menajemen profesional yang modern, transparan, dan demokratis 4. Kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan tantangan dunia modern 5. Pengembangan jaringan madrasah 6. Pemilihan program yang sesuai dengan daya dukung ketenagaan dan sarana prasarana yang tersedia. Karena dan untuk tujuan itulah madrasah ini terlahir di pesisir Pantai Utara Tangerang sejak belasan tahun lalu.
Jumlah Pengunjung Saat ini
Hikmah
Hari-hari ini kita telah memasuki bulan Muharram tahun 1432 Hijriah. Seakan tidak terasa, waktu berjalan dengan cepat, hari berganti hari, pekan, bulan, dan tahun berlalu silih berganti seiring dengan bergantinya siang dan malam. Bagi kita, barangkali tahun baru ini tidak seberapa berkesan karena negara kita tidak menggunakan kalender Hijriah, tetapi Masehi. Dan yang akrab dalam keseharian kita adalah hitungan kalender Masehi. Tanggal lahir, pernikahan, masuk dan libur kantor dan sebagainya. Akan tetapi sebagai seorang muslim kita perlu untuk sejenak menghayati beberapa hal yang terkait dengan penanggalan Islam ini.
Beberapa hal yang seyogyanya kita jadikan renungan itu adalah :
1. Syukur atas Usia yang diberikan Allah
Umur adalah nikmat yang diberikan Allah pada kita, dan jarang kita syukuri. Betapa banyak orang yang kita kenal, baik teman, sahabat , keluarga, guru, atau siapa pun yang kita kenal, tahun lalu masih hidup bersama kita. Bergurau, berkomunikasi, mengajar, menasehati atau melakukan aktifitas hidup sehari-hari, namun tahun ini dia telah tiada. Dia telah wafat, menghadap Allah Suhanahu wa ta'ala dengan membawa amal shalehnya dan mempertanggungjawabkan kesalahannya. Sementara kita saat ini masih diberi Allah kesempatan untuk bertaubat, memperbaiki kesalahan yang kita perbuat, menambah amal shaleh sebagai bekal menghadap Allah.
Umur yang kita hitung pada diri kita seringkali kita tetapkan berdasarkan hitungan kalender Masehi. Dan hitungan atau jumlah usia kita tentu akan lebih sedikit bila dibandingkan dengan hitungan yang mengacu pada kalender hijriyah. Sementara, lepas dari masalah ajal yang akan datang menjemput sewakatu-waktu, terkadang kita menganggap usia kita yang dibanding Rasulullah saw. yang wafat pada usia 63 tahun, kita merasa masih jauh dari angka itu. Padahal bisa jadi hitungan umur kita telah lebih banyak dari yang kita tetapkan. Karena itu sangat tidak layak apabila seseorang yang masih diberi kesehatan, kelapangan rizki dan kesempatan untuk beramal lalai bersyukur pada Allah dengan mengabaikan perintah-perintahNya serta sering melanggar larangan-laranganNya.
2. Muhasabah (introspeksi diri) dan istighfar
Ini adalah hal yang penting dilakukan setiap muslim. Karena sebuah kepastian bahwa waktu yang telah berlalu tidak mungkin akan kembali lagi, sementara disadari atau tidak kematian akan datang sewaktu-waktu dan yang bermanfaat saat itu hanyalah amal shaleh. Apa yang sudah dilakukan sebagai bentuk amal shaleh? Sudahkah tilawah al-Qur'an, sedekah dan dzikir kita menghapuskan kesalahan-kesalahan yang kita lakukan? Malam-malam yang kita lewati, lebih sering kita gunakan untuk sujud kepada Allah, meneteskan air mata keinsyafan ataukah lebih banyak untuk begadang menikmati tayangan-tayangan sinetron, film dan sebagainya dari televisi? Langkah-langkah kaki kita, kemana kita gunakan? Dan sebagainya. Pertanyaan-pertanyaan semacam ini selayaknya menemani hati dan pikiran seorang muslim yang beriman pada Allah dan Hari Akhir, lebih-lebih dalam suasana pergantian tahun seperti sekarang ini. Pergantian tahun bukan sekedar pergantian kalender di rumah kita, namun peringatan bagi kita apa yang sudah kita lakukan tahun lalu, dan apa yang akan kita perbuat esok.
Allah berfirman :
(( يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله ولتنظر نفس ما قدمت لغد واتقوا الله إن الل
ه خبير بما تعملون ))
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al Hasyr: 18).
Ayat ini memperingatkan kita untuk mengevaluasi perbuatan yang telah kita lakukan pada masa lalu agar meningkat di masa datang yang pada akhirnya menjadi bekal kita pada hari kiamat kelak.
Rasulullah saw bersabda : "Orang yang cerdas adalah orang yang menghitung-hitung amal baik (dan selalu merasa kurang) dan beramal shaleh sebagai persiapan menghadapi kematian".
Dalam sebuah atsar yang cukup mashur dari Umar bin Khaththab ra beliau berkata :
"Hitunglah amal kalian, sebelum dihitung oleh Allah"
3. Mengenang Hijrah Rasulullah saw
Sebenarnya dalam kitab Tarikh Ibnu Hisyam dinyatakan bahwa keberangkatan hijrah Rasulullah dari Mekah ke Madinah adalah pada akhir bulan Shafar, dan tiba di Madinah pada awal bulan Rabiul Awal. Jadi bukan pada tanggal 1 Muharram sebagaimana anggapan sebagian orang. Sedangkan penetapan Bulan Muharram sebagai awal bulan dalam kalender Hijriyah adalah hasil musyawarah pada zaman Khalifah Umar bin Khatthab ra tatkala mencanangkan penanggalan Islam. Pada saat itu ada yang mengusulkan Rabiul Awal sebagai l bulan ada pula yang mengusulkan bulan Ramadhan. Namun kesepakatan yang muncul saat itu adalah bulan Muharram, dengan pertimbangan pada bulan ini telah bulat keputusan Rasulullah saw untuk hijrah pasca peristiwa Bai'atul Aqabah, dimana terjadi bai'at 75 orang Madinah yang siap membela dan melindungi Rasulullah SAW, apabila beliau datang ke Madinah.
Dengan adanya bai'at ini Rasulullah pun melakukan persiapan untuk hijrah, dan baru dapat terealisasi pada bulan Shafar, meski ancaman maut dari orang-orang Qurais senantiasa mengintai beliau.
Peristiwa hijrah ini seyogyanya kita ambil sebagai sebuah pelajaran berharga dalam kehidupan kita. Betapapun berat menegakkan agama Allah, tetapi seorang muslim tidak layak untuk mengundurkan diri untuk berperan didalamnya. Rasulullah SAW, akan keluar dari rumah sudah ditunggu orang-orang yang ingin membunuhnya. Begitu selesai melewati mereka, dan harus bersembunyi dahulu di sebuah goa, masih juga dikejar, namun mereka tidak berhasil dan beliau dapat meneruskan perjalanan. Namun pengejaran tetap dilakukan, tetapi Allah menyelamatkan beliau yang ditemani Abu Bakar hingga sampai di Madinah dengan selamat. Allah menolong hamba yang menolong agamaNya. Perjalanan dari Mekah ke Madinah yang melewati padang pasir nan tandus dan gersang beliau lakukan demi sebuah perjuangan yang menuntut sebuah pengorbanan.
Namun dibalik kesulitan ada kemudahan. Begitu tiba di Madinah, dimulailah babak baru perjuangan Islam. Perjuangan demi perjuangan beliau lakukan. Menyampaikan wahyu Allah, mendidik manusia agar menjadi masyarakat yang beradab dan terkadang harus menghadapi musuh yang tidak ingin hadirnya agama baru. Tak jarang beliau turut serta ke medan perang untuk menyabung nyawa demi tegaknya agama Allah, hingga Islam tegak sebagai agama yang dianut oleh sebagian besar penduduk dunia saat itu. Lalu sudahkah kita berbuat untuk agama kita?
4. Kalender Hijriyah adalah Kalender Ibadah kita
Barangkali kita tidak memperhatikan bahwa ibadah yang kita lakukan seringkali berkait erat dengan penanggalan Hijriyah. Akan tetapi hari yang istimewa bagi kebanyakan dari kita bukan hari Jum'at, melainkan hari Minggu. Karena kalender yang kita pakai adalah Kalender Masehi. Dan sekedar mengingatkan, hari Minggu adalah hari ibadah orang-orang Nasrani. Sementara Rasulullah saw menyatakan bahwa hari jum'at adalah sayyidul ayyam (hari yang utama diantara hari yang lain). Demikian pula penetapan hari raya kita, baik Idul Adha maupun Idul Fitri pun mengacu pada hitungan kalender Hijriyah. Wukuf di Arafah yang merupakan satu rukun dalam ibadah haji, waktunya pun berpijak pada kalender hijriah. Begitu pula awal Puasa Ramadhan, puasa ayyamul Bidh ( tanggal 13,14,15 tiap bulan) dan sebagainya mengacu pada Penanggalan Hijriah. Untuk itu seyogianya bagi setiap muslim untuk menambah perhatiannya pada Kalender Islam ini.
5. Beberapa Keutamaan dan Peristiwa di Bulan Muharram
a. Bulan Haram.
Muharram, yang merupakan bulan pertama dalam Kalender Hijriyah, termasuk diantara bulan-bulan yang dimuliakan (al Asy- hurul Hurum). Sebagaimana firman Allah Ta'ala:
"Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah diwaktu Dia menciptakan lanit dan bumi, diantaranya terdapat empat bulan haram." (Q.S. at Taubah :36).
Dalam hadis yang dari shahabat Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda:
"Sesungguhnya zaman itu berputar sebagaiman bentuknya semula di waktu Allah menciptakan langit dan bumi. Setahun itu ada dua belas bulan diantaranya terdapat empat bulan yang dihormati: 3 bulan berturut-turut; Dzul Qo'dah, Dzul Hijjah, Muharram dan Rajab Mudhar, yang terdapat diantara bulan Jumada tsaniah dan Sya'ban." (HR. Bukhari dan Muslim)
Pada keempat bulan ini Allah melarang kaum muslimin untuk berperang. Dalam penafsiran lain adalah larangan untuk berbuat maksiat dan dosa. Namun bukan berarti berbuat maksiat dan dosa boleh dilakukan pada bulan-bulan yang lain.
Sebagaimana ayat Al Qur'an yang memerintahkan kita menjaga Shalat Wustha, yang banyak ahli Tafsir memahami shalat wustha adalah Shalat Ashar. Dalam hal ini, shalat Ashar mendapat perhatian khusus untuk kita jaga.
Firman Allah: "Peliharalah segala shalat mu, dan peliharalah shalat wustha" (Q.S. al Baqarah :238) Nama Muharram secara bahasa, berarti diharamkan. Maka kembali pada permasalahan yang telah dibahas sebelumnya, hal tersebut bermakna pengharaman perbuatan-perbuatan yang dilarang Allah memiliki tekanan khusus untuk dihindari pada bulan ini.
b. Bulan Allah.
Bulan Muharram merupakan suatu bulan yang disebut sebagai "syahrullah" (Bulan Allah) sebagaimana yang disampaikan Rasulullah SAW, dalam sebuah hadis. Hal ini bermakna bulan ini memiliki keutamaan khusus karena disandingkan dengan lafdzul Jalalah (lafadz Allah). Para Ulama menyatakan bahwa penyandingan sesuatu pada yang lafdzul Jalalah memiliki makna tasyrif (pemuliaan), sebagaimana istilah baitullah, Rasulullah, Saifullah dan sebagainya.
Rasulullah bersabda : "Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bula Allah (yaitu) Muharram. Sedangkan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam". (H.R. Muslim)
c. Sunnah Berpuasa.
Di bulan Muharram ini terdapat sebuah hari yang dikenal dengan istilah Yaumul 'Asyuro, yaitu pada tanggal sepuluh bulan ini. Asyuro berasal dari kata Asyarah yang berarti sepuluh.
Pada hari Asyuro ini, terdapat sebuah sunah yang diajarkan Rasulullah saw. kepada umatnya untuk melaksanakan satu bentuk ibadah dan ketundukan kepada Allah Ta'ala. Yaitu ibadah puasa, yang kita kenal dengan puasa Asyuro. Adapun hadis-hadis yang menjadi dasar ibadah puasa tersebut, diantaranya :
1. Diriwayatkan dari Abu Qatadah ra, Rasulullah saw, bersabda :
" Aku berharap pada Allah dengan puasa Asyura ini dapat menghapus dosa selama setahun sebelumnya." (H.R. Bukhari dan Muslim)
2. Ibnu Abbas ra berkata:
"Aku tidak pernah melihat Rasulullah saw, berupaya keras untuk puasa pada suatu hari melebihi yang lainnya kecuali pada hari ini, yaitu hari as Syura dan bulan Ramadhan." (H.R. Bukhari dan Muslim)
3. Ibnu Abbas ra berkata:
Ketika Rasulullah saw. tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari‚ Asyura, maka Beliau bertanya : "Hari apa ini?. Mereka menjawab : "ini adalah hari istimewa, karena pada hari ini Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuhnya, Karena itu Nabi Musa berpuasa pada hari ini. Rasulullah pun bersabda :
"Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian"
Maka beliau nerpuasa dan memerintahkan shahabatnya untuk berpuasa. (H.R. Bukhari dan Muslim)
4. Dalam riwayat lain, Ibnu Abbas ra berkata:
Ketika Rasulullah saw. berpuasa pada hari asyura dan memerintahkan kaum muslimin berpuasa, mereka (para shahabat) berkata: "Ya Rasulullah ini adalah hari yang diagungkan Yahudi dan Nasrani". Maka Rasulullah pun bersabda:
"Jika tahun depan kita bertemu dengan bulan Muharram, kita akan berpuasa pada hari kesembilan (tanggal sembilan)." (H.R. Bukhari dan Muslim)
Imam Ahmad dalam musnadnya dan Ibnu Khuzaimah dalam shahihnya meriwayatkan sebuah hadis dari Ibnu Abbas ra, Rasulullah saw. bersabda: "Puasalah pada hari Asyuro, dan berbedalah dengan Yahudi dalam masalah ini, berpuasalah sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya."
Selain hadis-hadis yang menyebutkan tentang puasa di bulan ini, tidak ada ibadah khusus yang dianjurkan Rasulullah untuk dikerjakan di bulan Muharram ini.
Bagaimana Berpuasa di bulan Asyura?
Dalam kitab Zaadul Ma'aad –berdasarkan riwayat-riwayat yang ada- menjelaskan :
- Urutan pertama, dan ini yang paling sempurna adalah puasa tiga hari, yaitu puasa tanggal sepuluh ditambah sehari sebelum dan sesudahnya (9,10,11)
- Urutan kedua, puasa tanggal 9 dan 10. Inilah yang disebutkan dalam banyak hadits
- Urutan ketiga, puasa tanggal 10 saja.
Puasa sebanyak tiga hari (9,10,dan 11) dikuatkan para para ulama dengan dua alasan sebagai berikut :
1. Sebagai kehati-hatian, yaitu kemungkinan penetapan awal bulannya tidak tepat, maka puasa tanggal sebelasnya akan dapat memastikan bahwa seseorang mendapatkan puasa Tasu'a (tanggal 9) dan Asyuro (tanggal 10)Secara umum, hadits-hadis yang terkait dengan puasa Muharram menunjukkan anjuran Rasulullah saw untuk melakukan puasa, sekalipun itu hukumnya tidak wajib tetapi sunnah muakkadah, dan tentunya kita berusaha untuk menghidupkan sunnah yang telah banyak dilalaikan oleh kaum muslimin.
2. Dimasukkan dalam puasa tiga hari pertengahan bulan (Ayyamul bidh).
Adapun puasa tanggal 9 dan 10, dinyatakan jelas dalam hadis pada akhir hidup beliau sudah merencanakanryang shahih, dimana Rasulullah untuk puasa pada tanggal 9. hanya saja beliau meninggal sebelum melaksanakannya. Beliau juga memerintahkan para shahabat untuk berpuasa pada tanggal 9 dan tanggal 10 agar berbeda dengan ibadah orang-orang Yahudi.
Sedangkan puasa pada tanggal sepuluh saja, sebagian ulama memakruhkannya, meskipun pendapat ini tidak dikuatkan sebagian ulama yang lain.
d. Diantara Peristiwa di Bulan Muharram
Pada tanggal 10 Muharram 61H, terjadilah peristiwa yang memilukan dalam di sebuah tempatr cucu Rasulullah tsejarah Islam, yaitu terbunuhnya Husein yang bernama Karbala. Peristiwa ini kemudian dikenal dengan "Peristiwa Karbala". Pembunuhan tersebut dilakukan oleh pendukung Khalifah yang sedang berkuasa pada saat itu yaitu Yazid bin Mu'awiyah, meskipun sebenarnya Khalifah sendiri saat itu tidak menghendaki pembunuhan tersebut.
Peristiwa tersebut memang sangat tragis dan memilukan bagi siapa saja yang mengenang atau membaca kisahnya, dan kita tentu mencintai dan apalagi terhadap orang yang dicintai Rasulullah memuliakannya. Namun musibah apapun yang terjadi dan betapapun kita sangat mencintai keluarga Rasulullah, hal itu jangan sampai membawa kita larut dalam kesedihan dan melakukan kegiatan-kegiatan sebagai bentuk duka dengan memukul-mukul diri, menangis apalagi sampai mencela shahabat Rasulullah yang tidak termasuk Ahli Bait (keluarga dan keturunan beliau). Yang mana hal ini biasa dilakukan suatu kelompok syi'ah yang mengaku memiliki kecintaan yang sangat tinggi terhadap Ahli Bait (Keluarga Rasulullah), padahal kenyataanya tidak demikian.
e. Adat Istiadat di Tanah Air
Pada awal Muharram, yang sering dikenal dengan istilah 1 Suro, di tanah air sering diadakan acara ritual dan adat yang beraneka macam bahkan tidak jarang mengarah pada kesyirikan, seperti meminta berkah pada benda-benda yang dianggap keramat dan sakti, membuang sesajian ke laut agar Sang Dewi penjaga laut tidak marah dan lain sebagainya. Hal-hal semacam ini harus dihindari oleh setiap muslim dimanapun mereka berada. Rasulullah telah mengajarkan pada kita agar memiliki jati diri sebagai seorang Muslim dalam kehidupan. Jangan sampai seorang muslim mudah terbawa oleh budaya atau ritual agama lain dalam menjalankan ibadah pada Allah. Ajaran yang dibawa Rasulullah telah jelas dan sempurna tidak layak bagi kita untuk menambah atau menguranginya.
Karena sebaik-baik pedoman adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk beliau, yang tidak ada keselamatan kecuali dengan berpegang kepada keduanya dengan mengikuti pemahaman para sahabat, tabi'in dan penerus mereka yang setia berpegang kepada sunnahnya dan meniti jalannya, adapun hal-hal baru dalam masalah agama adalah sesat sedangkan kesesatan itu akan menghantarkan ke neraka, naudzu billaah.
Semoga kita selalu diberi taufiq dan dibimbing oleh Allah swt. Kejalan-Nya yang lurus serta mendapatkan keridhaan dan ampunany-Nya, amin ya rabbal 'alamin.
Hikmah
![]() |
| Bila bencana melanda, siapa yang bisa menyangka? |
Berbagai bencana alam, kembali menimpa bangsa Indonesia. Mulai dari 'tsunami' kecil di Wasior, Papua, yang menewaskan lebih dari 150 orang, disusul banjir di Jakarta yang mampu menghentikan denyut jantung aktivitas perekonomian Ibu Kota, lalu gempa dan tsunami di pantai Kepulauan Mentawai, Provinsi Sumatra Barat, yang merenggut lebih dari 115 nyawa, hingga awan panas Gunung Merapi yang mencapai suhu 8000C di Yogyakarta, seakan ikut andil untuk 'menyapa' manusia. Fenomena alam ini tak ubahnya secuil bukti kemahakuasaan Allah untuk menggambarkan betapa kecilnya kuasa manusia di dunia.
Lebih dari empat miliar tahun planet bumi diciptakan beserta sumber dayanya, tak lain adalah untuk memfasilitasi hidup manusia. Pada hakikatnya, manusia adalah makhluk nomaden yang berasal dari alam azali, berpindah ke alam rahim, lalu lahir ke alam dunia. Selanjutnya, diantarkan ke alam barzakh dengan tempat pemberhentian di alam akhirat.
Sesungguhnya, batas waktu (time limit) khalifah di bumi ini sangat singkat. Ia laksana seorang pengembara yang mampir untuk sekadar minum. Begitulah Rasullullah SAW menggambarkan kehidupan manusia di dunia.
Setiap bayi yang lahir di alam fana ini tidak punya pilihan untuk hidup, kecuali dengan dua buah kitab, yakni kitab catatan perbuatan baik (sijjin) dan perbuatan buruk (illiyin). Itulah yang akan menyertainya sampai akhirat nanti. Ditambah lagi, dengan amanah Allah yang khusus diberikan kepada manusia, yakni shalat.
Suatu ketika sahabat melihat Ali bin Abi Thalib RA ketika berwudhu. Kulitnya tampak berwarna kuning, dan badannya gemetar ketika shalat. Sahabat lain yang menyaksikannya kemudian bertanya kepada menantu Rasullullah itu. "Wahai Ali, mengapa engkau kelihatan seperti tidak sehat ketika berwudhu dan shalat?" Ali menjawab; "Bagaimana aku tidak gemetar, jika gunung, pohon, dan makhluk lainnya saja, tidak sanggup memegang amanah Allah ini."
Hidup di dunia sangatlah singkat, tak sebanding dengan kehidupan di akhirat. "Para malaikat dan Jibril naik menghadap Allah, dalam sehari setara dengan 50 ribu tahun." (QS Al-Maarij [70]: 4).
Berarti, waktu sehari di akhirat sama dengan 50 ribu tahun di dunia. Bila dikonversikan dengan umur manusia berdasarkan usia Rasullullah SAW (63 tahun), maka kehidupan manusia setara dengan 1 menit 49 detik di akhirat. Suatu waktu yang sangat singkat. Oleh karena itu, berhitunglah! Wallahu a'lam. [Republika]
Hikmah, Mapel
Setiap orang bangga dengan kehormatannya. Dia akan merasa muak dan tidak puas jika kehormatannya diusik, diejek atau dihina. Motif segala fenomena menyepelekan orang lain bisa berupa kekuasan yang tiran atau juga adanya dominasi sifat dzalim dalam diri, bisa juga akibat rasa takabbur dan lebih unggul dari manusia lain.
Menghina orang lain bisa menimbulkan reaksi saling ejek dan saling hina lagi, serta menumbuhkan keinginan untuk melampiaskan dendamnya saat kesempatan itu ada juga dengan hinaan lagi.
Bentuk-bentuk penghinaan itu antara lain: menjuluki orang lain dengan julukan yang jelek, mengumpat, mencela dan mencaci orang lain. Allah berfirman: "Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela." (QS. Al Humazah: 1) Atau adzab dan lembah jahannam akan diberikan kepada siapa yang mencaci aib seseorang.
Allah swt telah menjaga kehormatan setiap manusia. Dalam al Qur'an Dia berfirman: "Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam." (QS. Al Isra: 70)
Allah juga melarang mengolok-olok orang lain, Dia berfirman: "Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-ngolokkan), dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-ngolokkan) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokkan) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk." (QS. AL Hujuraat: 11)
Atau satu masyarakat tidak boleh mengolok-olok masyarakat lain karena bisa jadi yang diolok-olok lebih baik dari yang mengolok-olok.
Sunnah dan hadits Nabi juga telah menjelaskan dan menegaskan apa yag disinyalir oleh al Qur'an. Di antaranya apa yang diriwayatkan Muslim dari Abu Hurairah ra, bahwa rasulullah saw telah bersabda: "Seseorang dianggap memiliki benih kejahatan dengan hanya menghina saudaranya yang muslim." Atau, seseorang cukup dikatakan penjahat jika dia telah menghina saudaranya muslim, bahkan non-muslim sekalipun, karena mereka semua merupakan makhluk Allah ta'ala.
Motif menghina yang paling penting biasanya adalah rasa takabbur, seperti yang diriwayatkan Muslim dari Ibn Mas'ud ra, bahwa Rasulullullah saw bersabda: "Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walau sebesar biji jagung." Seorang laki-laki bertanya: bagaimana jika seseorang ingin pakaiannya indah dan sendalnya juga bagus? Lalu beliau menjawab: (Allah itu indah dan mencinta keindahan, sementara kesombongan dapat memotong hak dan menghina manusia." Atau bahwa memperindah penampilan, pakaian dan sepatu serta bentuk bukan merupakan kesombongan. Tapi kesombongan yang tercela adalah yang termasuk dosa besar, yaitu menghina manusia dan meninggalkan dan memasung hak. Siapa yang mengerjakan kebatilan dan meremehkan seruan hak dan kekuasaannya, maka dialah orang sombong yang balasannya adalah neraka serta dilarang masuk surga.
Sombong dan merasa besar hanyalah sifat milik Allah semata. Karena Dialah pemilik segala kekuasaan yang mutlak, kehendak yang terlaksana, dan keinginan yang universal. Dialah yang memiliki sifat rahmat yang maha luas dan sebaik-baik pengampun dosa hambaNya.
Muslim meriwayatkan dari Jundub bin Abdullah ra, dia berkata: Rasulullah saw bersabda: "Seorang laki-laki ada yang berkata: 'Demi Allah, Allah tidak akan mengampuni si fulan'. Lalu Allah berkata: 'Siapa yang bersumpah demi aku ini? Tidakkah aku selalu memaafkan si fulan? Sesungguhnya aku telah mengampuninya, dan aku telah membatalkan pahala amalmu!'."
Dalam hadits ini mengandung betapa besar karunia, rahmat dan ampunanNya untuk hambaNya. Hadits juga mengandung ancaman bagi orang yang menghina seorang muslim dan lainnya serta perlunya menghindari vonis tertentu kepada orang lain. Pekerjaan ini hanya khusus hak Allah. Di luar ketentuan tersebut pekerjaan ini dianggap bertentangan dengan etika Allah dan melampaui batasNya.
Allah juga mengharamkan mencemooh orang lain jika orang itu terkena musibah, bencana, atau kesulitan financial. Berdasarkan firmanNya: "Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara." (QS. Al Hujuraat: 10). Juga firmanNya: "Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat." (QS. An Nuur: 19)
Mencemooh adalah bentuk lain dari penghinaan yang bertentangan dengan prinsip ukhuwwah imaniah yang mengandung ketentuan bahwa seorang mukmin mesti ikut merasakan kesakitan dan kebahagiaan saudara mukmin lainnya. Di samping hal itu juga bertentangan dengan haramnya kehormatan manusia, seperti yang diriwayatkan Muslim dari Abu Hurairah: "Setiap muslim diharamkan atasnya seorang muslim lain dalam hal: darahnya, hartanya dan kehormatannya."
Balasan bagi orang-orang yang mencemooh orang lain adalah akan diberikan kepadanya bala. Sementara bagi orang yang dicela akan tetap dijaga kesehatannya oleh Allah.
Tirmidzi meriwayatkan –hadits hasan—dari Watsilah bin al Asqa' ra, dia berkata: Rasulullah saw bersabda: "Jangan engkau cemooh saudaramu, karena Allah akan memberi rahmat baginya dan akan memberi bala kepadamu." Atau sanksi orang yang mencemooh di dunia berupa musibah yang akan berpindah kepadanya, sementara yang dicela akan terbebas dari hinaan dan diberikan rahmat oleh Allah ta'ala. (Taufik Munir)
Hikmah
Seorang muslim sejatinya harus selalu sadar dengan apa yang dilihatnya sehingga bisa teliti dalam menyampaikan segala macam berita. Dia mesti selalu melakukan check dan re-check dalam menceritakan riwayat dan menyampaikan kabar berita, jauh dari isu dan desas-desus yang beredar di kalangan manusia.
Dia juga dituntut untuk selalu jujur dalam bertutur dan dalam menyampaikan segala hal kepada orang lain, sehingga tidak mengisi benak dan otak orang-orang dengan perkataan-perkataan bohong dan tidak konsisten. Allah swt berfirman: "Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya." (QS. Al Israa: 36)
Atau, jangan engkau ikuti hal-hal yang tidak sama sekali memiliki bukti-bukti konkret dan ilmiah.
Allah juga berfirman: "Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir." (QS. Qaaf: 18)
Al Qur'an telah menegaskan dengan keras tentang prinsip check dan re-check dalam menyampaikan berita, juga mengajarkan agar tidak segera mempercayai setiap isu yang diucapkan orang dan didengarnya. Allah swt berfirman: "Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu." (QS. Al Hujuraat: 6)
Banyak hadits-hadits Nabi yang juga menyatakan makna yang sama. Di antaranya hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah ra, bahwa Nabi saw bersabda: "Seseorang sudah cukup dikatakan bohong dengan hanya mengatakan langsung hal-hal yang didengarnya."
Hadits ini seperti halnya ayat-ayat al Qur'an di atas menunjukkan dilarangnya menyampaikan secara langsung segala hal yang didengar seseorang, karena bisa saja dia mendengar hal yang benar atau bisa juga bohong. Jika dia melakukan hal tersebut maka sudah bisa dikategorikan berbohong, karena dia telah memberitakan sesuatu yang belum tentu terjadi.
Hadits lain menegaskan makna yang sama. Muslim meriwayatkan dari Samarah bin Jundub ra, dia berkata: Rasulullah saw bersabda: "Barangsiapa meriwayatkan satu perkataan dari aku padahal itu bohong (bukan dari aku), maka dia termasuk orang-orang yang bohong."
Dengan kata lain, meriwayatkan satu perkataan bohong bisa membuat sang perawi digolongkan sebagai pembohong. Ini bukti bahwa sifat bohong diberikan kepada siapa saja yang membuat kebohongan, juga kepada orang yang ikut menceritakan kebohongan itu lagi kepada manusia. Maka bagi seorang muslim seharusnya mengecek terlebih dahulu kebenaran sebuah berita sebelum menyampaikannya lagi kepada orang lain.
Kebohongan bisa terjadi dengan berpura-pura akan sesuatu yang tidak pada hakikatnya. Karena hal itu merupakan kepalsuan dan kebohongan.
Dalam hadits muttafaq alaih diriwayatkan dari Asma binti Abu Bakar ra, bahwa seorang perempuan berkata: "Wahai Rasulullah, aku memiliki madu[1], apakah berdosa jika aku berpura-pura puas dengan apa yang sebenarnya tidak diberikan suamiku? Lalu Nabi saw menjawab: 'Orang yang berpura-pura puas dengan apa yang tidak diberikan kepadanya seperti orang yang mengenakan pakaian kepalsuan'."
Maksud dari kalimat 'Aku berpura-pura puas dengan apa yang sebenarnya tidak diberikan suamiku' di sini adalah, seseorang yang menganggap dirinya mendapat fadhilah (kemuliaan) padahal kemuliaan itu tidak ada padanya. Nabi saw sendiri menganggap berpura-pura dengan hal yang tidak sebenarnya sebagai kepalsuan dan kebohongan, dan mengumpamakannya dengan orang yang memakai pakaian kepalsuan. Inilah orang yang bersikap palsu terhadap manusia. Seperti halnya orang yang berpakaian dengan pakaian zuhud, alim dan berpura-pura kaya, supaya orang lain iri padanya, padahal dia tidak demikian adanya.
Hadits tadi menyatakan bahwa kepura-puraan seseorang dengan hal yang tidak ada pada dirinya bisa membuat dia dicap sebagai pembohong. Fenomena seperti ini banyak terjadi di zaman kita sekarang ini, baik di kalangan laki-laki maupun perempuan. Kepura-puraan ini dilakukan untuk menampakkan kemuliaan dan kedudukannya sehingga orang itu dianggap berasal dari golongan lapisan atas. Padahal kondisinya bertentangan dengan kenyataan sebenarnya.
Oleh karena itu Islam melalui hadits ini menyuruh supaya ada kesesuaian antara lahir dan batin, penampilan dengan kenyataan, supaya tidak ada penipuan dan kebohongan. Allah swt sendiri telah mengharamkan berbohong dalam kesaksian dan lain sebagainya.
Allah swt berfirman: "Maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta." (QS. Al Hajj: 30). Atau perkataan bathil dan bohong.
Dia juga berfirman: "Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya." (QS. Al Israa: 36)
Dan Allah juga berfirman: "Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir." (QS. Qaaf: 18).
FirmanNya juga: "Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi." (QS. Al Fajr: 14) Atau Tuhanmu mengawasi semua pekerjaan manusia dan memberikan balasannya.
Dalam menggambarkan salah seorang hambaNya, Allah swt berfirman: "Dan orang-orang yang tidak memberikan kesaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya." (QS. Al Furqan: 72) Yaitu orang-orang yang tidak memberi kesaksian yang batil dan bohong.
Kesaksian palsu seperti halnya sumpah perjury atau sumpah bohong yang dilakukan dengan disengaja merupakan salah satu dosa besar. Tidak dihalalkan bagi seorang muslim untuk memberikan kesaksian palsu atau bersumpah dengan sumpah perjury tadi walaupun dia benar atau ada maslahatnya, supaya hal itu tidak dijadikan sarana untuk suatu kejahatan dan kebatilan sehingga akan mendatangkan bahaya bagi orang lain.
Dalam hadits muttafaq alaih yang diriwayatkan dari Abu Bakar ra, dia berkata: Rasulullah saw bersabda: "Maukah engkau aku beri tahu tentang dosa yang paling besar? Kami katakan: Ya, wahai Rasulullah! Kemudian beliau berkaa: Syirik kepada Allah dan melawan kedua orang tua. Tadinya beliau duduk bersandar kemudian duduk tegak[2]. Lalu melanjutkan lagi: Juga berkata bohong, dan memberi kesaksian palsu." Itulah yang beliau ulang-ulang, sampai kami berpikir kapan beliau berhenti.
Atau bahwa ketiga perkara; syirik kepada Allah, melawan kedua orang tua, dan kesaksian palsu merupakan dosa besar yang paling besar, karena semuanya mengandung kerusakan dan bahaya parah di kalangan manusia, juga merupakan kejelekan dan aib berbahaya dalam masyarakat. (Taufik Munir)
Hikmah
Kekuatan dan kelemahan, kesehatan dan sakit, masa muda dan tua dan sebagainya merupakan fenomena kehidupan manusia di alam semesta. Tidak ada satu kondisi yang berlangsung tetap tanpa kondisi lain. Ini merupakan hikmah ilahi yang sangat tinggi, sehingga segala sesuatu pasti ada lawannya. Dengan demikian manusia akan tetap terus berusaha menjaga keseimbangan dalam setiap kondisi dan situasi. Nikmat meniscayakan rasa syukur dan kelemahan menuntut adanya kesabaran. Manusia pun dituntut untuk menghargai kondisi semacam ini, sehingga orang kuat tidak menjadi sombong terhadap orang lemah. Orang sehat tidak boleh berbesar hati di hadapan orang sakit.
Merasa rendah diri dalam setiap keadaan dianjurkan dan pelakunya akan mendapatkan pahala. Bahkan sifat ini sangat penting dan sesuai dengan kondisi orang yang tengah dilanda musibah semacam ini. Allah swt berfirman: "Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya, dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka." (QS. Al Kahfi: 28)
Maksudnya didiklah jiwa agar tetap bersabar dalam bergaul dengan orang-orang lemah pada setiap waktu dan keadaan. Dengan begitu mereka telah meminta keridhaan Allah. Tidak diperbolehkan mengabaikan orang-orang lemah dengan mengalihkan pandangan kepada orang lain.
Sunah Nabi juga telah memberi kabar gembira bagi orang-orang lemah, yaitu surga. Hadits juga mengabarkan bahwa orang-orang lemah lebih dekat kepada Allah dibanding manusia lain dan surga merupakan tempat tinggal bagi orang-orang lemah, sementara neraka merupakan tempat bagi orang-orang yang sombong dan keras kepala.
Bukhari dan Muslim dalam Kitab "Shahihain" meriwayatkan dari Haritsah bin Wahab ra, bahwa dia berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda: "Maukah engkau aku beritahu siapa ahli surga? Yaitu orang-orang yang teramat lemah, jika dia bersumpah maka dia Allah akan mewujudkannya, dan maukan engkau aku beritahu siapa ahli neraka? Mereka adalah orang-orang yang keras dan sombong."
Hadits ini menunjukkan larangan untuk berlaku kasar, sombong dan angkuh dan menganjurkan untuk bersikap rendah diri di mata orang-orang mukmin.
Dalam hadits muttafaq alaih lain diriwayatkan dari Abu al Abbas Sahal bin Sa'ad as Sa'idi ra, dia berkata: "Ada seorang laki-laki yang melewati Rasulullah saw, lalu Beliau berkata kepada orang yang sedang duduk dekat beliau: 'Bagaimana menurut engkau tentang orang ini?' Lalu dia menjawab: 'Orang itu termasuk manusia paling mulia, demi Allah orang ini layak jika dia meminang maka hendaknya langsung dinikahkan, dan jika memberi syafa'aat maka akan diterima'. Rasul pun diam. Kemudian seorang laki-laki lain melewati beliau lagi, lalu beliaupun bertanya: 'Bagaimana orang ini menurutmu?' Dia pun menjawab: 'Wahai rasulullah, ini orang muslim yang fakir, dia layak jika meminang untuk tidak dinikahkan, dan jika memberi syafa'at maka tidak diterima syafaatnya, dan jika dia berkata maka tidak perlu didengar ucapannya. Kemudian Rasulullah saw berkata lagi: 'Justru orang ini lebih baik di muka bumi seperti halnya yang tadi."
Ini adalah perbandingan yang jelas antara tradisi kaum Jahiliah dan orang-orang materialistis pada zaman kita dengan tradisi ahlul iman dan orang-orang yang selalu beramal untuk akhirat dan dunia sekedarnya. Dari perbandingan ini terlihat bahwa yang dipandang dari seseorang adalah kadar ketakwaan dia kepada Allah dan amal shalehnya, bukan keturunan atau kemuliaan dalam berbicara, atau dengan harta dan kekayaannya.
Hadits ini juga mengandung perintah untuk tidak mengabaikan orang-orang fakir, karena banyak orang gembel kusut yang lebih baik ketimbang orang yang memiliki pangkat dan kekayaan. Ketinggian pangkat dan penguasaan materi di dunia tidak sama sekali berpengaruh dalam timbangan Islam.
Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra, dia berkata: Rasulullah saw bersabda: "Banyak orang gembel kusut didorong mendekati pintu surga, jika bersumpah dengan nama Allah maka Allah akan mewujudkan sumpahnya."
Atau jika dia bersumpah demi ingin mendapat kemuliaan Allah, maka Allah akan mewujudkan tujuannya, mengabulkan permintaannya dan memberi apa yang diinginkannya.
Lain dengan keterangan tadi, Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw bersabda: "Akan datang seorang laki-laki yang besar lagi gemuk pada hari kiamat, di mata Allah dia tidak lebih berat dari sayap nyamuk."
Muslim juga meriwayatkan dari Abu Sa'id al Khudri ra, bahwa Nabi saw bersabda: "Surga dan neraka melakukan protes. Neraka berkata: kenapa aku menjadi tempat bagi orang-orang yang sombong lagi takabbur. Kemudian surga juga berkata: mengapa aku menjadi tempat orang-orang yang paling miskin dan paling lemah. Akhirnya Allah memutuskan antara keduanya. Surga adalah rahmatKu, dengan engkau Aku memberi rahmat kepada siapa saja, dan neraka adalah azabKu, dengan engkau Aku bisa mengazab siapa saja, dan keduanya tetap akan Aku isi."
Allah akhirnya memberitahu apa yang dikehendakiNya dari surga dan neraka. Dan masing-masing dari surga dan neraka akan ada yang mengisinya.
Dalam hadits lain muttafaq alaih yang menerangkan tentang golongan-golongan ahli surga dan ahli neraka, diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Usamah bin Zaid ra, bahwa Nabi saw bersabda: "Aku berdiri di depan pintu surga, aku temukan kebanyakan yang memasukinya adalah orang-orang miskin, dan orang-orang kaya tidak diperkenankan memasukinya, sementara itu penduduk neraka telah diperintahkan untuk masuk neraka, dan aku pun berdiri di depan pintu neraka, aku temukan kebanyakan yang memasukinya adalah perempuan."
Hadits ini mengandung kabar tentang hal-hal ghaib, yaitu tentang ahli surga dan ahli neraka. Penduduk surga adalah orang-orang miskin dan kaum papa sementara kebanyakan ahli neraka adalah perempuan yang bermaksiat kepada Allah, meninggalkan kewajiban, menolak kebaikan dan keindahan, terutama menolak untuk berbuat baik terhadap suami. Begitulah kondisinya perempuan-perempuan yang bermaksiat.
Walau begitu, dalam diri perempuan tetap ada kadar kesucian yang tinggi sehingga mereka pun akan berlomba-lomba dengan kaum laki-laki dalam mendapatkan derajat surga yang paling tinggi, karena ukuran yang dianggap dalam mendapatkan surga adalah amal saleh. (Taufik Munir)
Top 10 Popular of The Week
-
Al-Quran Perisaiku Cerpen: Rahmita El Jannati Derap langkahnya lincah dan teratur. Selincah pergerakan impuls yang berlalu lalang di setia...
-
Pengertian wara’ (baca: Waro) secara bahasa adalah menghindari diri dari perbuatan dosa atau menjauhi hal- hal yang tidak baik dan syubhat. ...
-
Saifullah, S.Ag (Wakamad Bidang Kesiswaan): "Hidup Harus Punya Iman dan Prinsif" Saya lahir di Tangerang tanggal 7 Agustus tahun...
-
Nama saya Mulhar Netty Anngraeni , sekarang duduk di kelas XII jurusan IPA. Saya dilahirkan di kota Mauk, tepatnya di Ir. Sutami No.19 Kp. K...
-
Ucapkanlah Terima Kasih kepada Kedua Orangtua WUJUDKAN SYUKUR KEPADA ALLAH dan Buktikan Rasa Hormat kepada Bapak/Ibu Guru yang telah mengaj...
-
Rosbandi, M.Pd. Nama yang tidak asing lagi di kalangan pendidikan di kecamatan Mauk. Ia lahir di Tangerang, 17 Maret 1960. Menamatkan pendid...
-
QS World University Rankings by Subject kembali merilis daftar peringkat universitas terbaik di dunia berdasarkan masing-masing jurusan dan ...
-
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UJIAN NASIONAL SMA/MA TAHUN PELAJARAN 2012/2013 ======================================= DAFTAR KOLEKTI...
-
Khutbah Jumat wajib dilakukan dengan santun dan memenuhi rukun khutbah. Lalu bagaimana jika khutbah tersebut justeru menghujat? Hukum dari s...
-
DAFTAR KOLEKTIF HASIL UJIAN NASIONAL MADRASAH ALIYAH NEGERI MAUK TAHUN PELAJARAN 2014/2015 PROGRAM STUDI: KEAGAMAAN N...
