SEJAK berbu-tibu tahun Mesir banyak melahirkan tokoh-tokoh besar dunia, rezim, Nabi, ilmuwan, ulama, agamawan, pemikir, filsuf, bahkan penjahat kelas dunia sekalipun. Tak mengherankan kalau tak seorangpun di dunia ini yang tak ingin menjejaki tanah Mesir, terlepas dari berbagai motivasi atau tujuan yag melatarbelakangi kepergian mereka ke negeri itu. Ada yang sengaja datang untuk menimba ilmu agama, ada yang bermaksud melakukan penelitian terhadap benda-benda kuno atau situs-situs purbakala, atau mungkin hanya sekedar untuk mengunjungi tempat-tempat wisata dan tempat-tempat bersejarah.

    Kisah Ayah, Ibu dan Anak Teladan


    Dari sekian banyak tokoh, pemikir, para Nabi, filsuf dan lainnya, ternyata ada satu sosok wanita yang paling dimuliakan Allah swt diantara sekian banyak wanita sholehah di Mesir. Wanita mulia yang dimaksud adalah isteri nabiyullah Ibrahim alaihissalam. Isteri super-ikhlas yang dibekali sifat-sifat terpuji dalam kesempurnaan kehidupan rumah tangganya. Pendek kata, beliau adalah tokoh wanita teladan dunia.
    Hajar, begitu namanya, dikenal paling pandai menjaga perasan suaminya kendatipun Ibrahim, sang suami, sudah renta dan sepanjang hidupnya bergelut dengan marabahaya. Kendati Ibrahim terancam tantangan dan godaan hidup, tak terbersitpun dalam hati Hajar untuk membencinya. Ia lakukan segalanya dengan ketulusan lillahi ta'ala dan penuh kesungguhan yang mengantarkannya pada kebahagiaan. Kehidupan yang bersahaja dan perjuangan yang melelahkan dan penuh pengorbanan itu, tak lain hanyalah untuk menyenangkan hati suami tercinta, Ibrahim as yang sudah memasuki usia senja. Ia berharap suatu saat melahirkan buah hati tercinta yang akan mengisi kehidupan mereka dengan penuh kebahagiaan. Hajar tidak menolak pilihan tersebut kendatipun usia mereka terpaut sangat jauh.
    Ibrahim sejak belia memohon kepada Allah agar diberikan kekuatan iman. Dengan inisiatifnya sendiri Ibrahim meluluh lantakkan berhala-berhala yang diciptakan orang tuanya sendiri. Sedangkan ayahnya memiliki ribuan pelanggan patung, yang, tentu saja pengikut sesembahan ayahnya. Namun, Ibrahim kecil bukanlah tipe bocah pengecut, ia tetap hancurkan benda-benda najis itu.
    Suatu ketika, peristiwa yang dinanti bertahun-tahun itu datang. Isteri tercinta, Hajar alaihassalam melahirkan seorang putra yang gagah. Rasa syukur tak terhingga memenuhi kalbunya. Dengan penuh kerendahan diri dan rasa haru tak tertahankan, Ibrahim pun sujud syukur atas anugerah dan anugerah-Nya yang begitu besar itu. Anak itu diberi nama Ismail.
    Beberapa hari sejak kelahiran bayi nan tampan itu, Ibrahim tiba-tiba terbangun dari tidurnya. Ia menyuruh Hajar agar berjalan di belakangnya sambil menggendong Ismail kecil. Ibrahim terus berjalan dari Siria di tengah padang yang tandus dan berbukit-bukit, hingga tibalah ia padang pasir jazirah Arabia menuju suatu lembah tanpa tumbuhan dan air. Tak terlihat sedikitpun tanda kehidupan di sana.
    Ibrahim turun dari onta tumpangannya disusul isteri tercinta dan anaknya, Ismail. Lantas ia tinggalkan di sana. Tinggallah kini Hajar dan Ismail di tengah-tengah padang pasir yang panas itu. Ibrahim hanya menitipkan sebuah kantong berisi perbekalan makanan dan sedikit air. Hajar termangu. Ditatapnya mata Ibrahim sambil membisikkan pertanyaan, "hendak kemanakah engkau, wahai Ibrahim. Engkau tinggalkan kami di tengah lembah yang tak ada sedikitpun tanda-tanda kehidupan di sini?".
    Ibrahim hanya memandang isterinya yang jelita itu sejenak, lantas meninggalkannya tanpa menoleh lagi. Ibrahim terus berjalan tanpa ragu. Ibrahim rupanya berfikir, apa yang dilakukannya untuk menunaikan tugasnya di jalan Allah.
    Hajar kini sadar bahwa apa yang dilakukan suaminya semata-mata karena wahyu. Sungguh suatu hal yang mustahil jika dirnya dibiarkan sebatangkara di tengah padang pasir tandus yang panas dibakar ganasnya matahari sahara. Perintah itu tentu bukan di tangannya, melainkan Allah Malikul Qohhar. Maka tak sedikitpun ada rasa benci terhadap Ibrahim, suaminya. Hajar mengerti bahwa ada sesuatu yang di luar nalar manusia. Pasti ada hikmah yang bisa ia raup di kemudian hari.
    Ia tengadahkan tangan. Sambil menatap langit biru ia beucap lirih, "kami kepunyaan-Mu ya Allah, lindungilah kami dari segala keburukan". Ia percaya bahwa pertolongan dan kasih sayang Allah akan selalu mengiringi. Ia tidak akan membiarkan syetan menguasai perasaannya. Ia juga tak ingin iblis mengisi hatinya dengan dengki dan kebencian terhadap suami yang meninggalkannya di lembah menakutkan itu. Karena Hajar yakin bahwa Ibrahim tengah mengemban risalah dari langit.
    Sesaat kemudian tampak Ibrahim bersembunyi di balik bukit, mengawasi mereka berdua. Langkahnya berhenti. Ia tengadah ke langit dan mendoakan Hajar dan putranya, Ismail. Lalu, Ibrahim berlalu.
    #
    Hajar duduk menyusui anaknya, Ismail. Sudah dua hari perbekalan sudah habis. Begitu juga dengan minuman. Terik mentari terasa mencakar ubun-ubun. Rasa haus mulai menyerang mereka berdua.  Tiba-tiba tangis Ismail pecahkan keheningan. Sebagai seorang ibu yang penuh kelembutan, naluri keibuan mendorongnya untuk bergegas mencari oase, orang-orang yang lewat, atau kafilah, hanya untuk meminta seteguk air. Tapi, tak seorangpun ia jumpai di tengah tanah yang kering itu.
    Laksana prajurit, Hajar terus berlari. Ia melintasi bukit Shafa, lalu ke pebukitan Marwa. Tidak ada air. Ia lintasi lagi tanah sekitar bukit Shafa, tetap tak ada air. Ia berlari lagi ke bukit Marwa, juga tidak ada apa-apa selain tanah dan bebatuan tanpa sedikitpun celah-celah kehidupan di sana. Tapi Hajar tetap berharap: jika ia melihat air, ia akan hampiri tempat itu dan Ismail kecil yang harus pertamakali mereguk air itu.
    Dari jauh Hajar melihat suatu kehidupan. Hati kecilnya menduga itulah benda yang ia cari-cari. Setelah tiba di tempat yang ia perkirakan air, ternyata hanya seonggok lubang menganga. Begitu berulang-ulang hingga enam kali putaran.
    Pada putaran yang ke tujuh Hajar duduk lemas. Sambil menahan dahaga ia duduk di samping anaknya yang parau karena banyak menangis kehausan. Hajar serahkan segalanya kepada Allah, sebab hanya Dia-lah yang menciptakan air dan seluruh apa yang ada di langit dan bumi. Tiba-tiba Ismail menyentakkan kakinya ke tanah yang berpasir itu. Ismail menangis sekuat-kuatnya, rupanya Ismail kecil tak mampu menahan panasnya pasir. Di saat yang sama, air menyembur di sela-sela kakinya.
    Hajar terkejut. Ia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan Allah itu. Lantas Hajar merentangkan kedua belah tangannya dan menyodorkannya ke mulut Ismail, lalu ke mulutnya sendiri, "Segala puji dan syukur hanya milik Allah, Tuhan semesta alam".
    Sungguh luar biasa hebatnya, sejak saat itu air yang sekarang disebut air zamzam itu menyihir orang-orang untuk mendapatkannya. Tidak seorangpun yang tidak ingin mendapatkan air penuh berkah tersebut. Bahkan burung-burung pun datang menyambar, dan para kafilah berduyun-duyun melingkari lembah.
    Hajar telah menunaikan kewajibannya mendidik Ismail menjadi teladan untuk kaumnya bahkan untuk tiap generasi sesudahnya.
    #
    PADA suatu malam, Ibrahim bermimpi. Dalam mimpinya Ibrahim disuruh untuk menyembelih Ismail, anaknya yang semata wayang itu. Ibrahim resah. Sepanjang waktu perasaannya diliputi gelisah tak menentu, apakah mimpi ini benar-benar suatu hidayah dari Allah, ataukah godaan syetan untuk menguji keimananya? Atau mungkinkah mimpi itu hanya bunga tidur belaka yang tiada artinya sama sekali? Perasaan Ibrahim tidak menentu. Apakah begitu tega seorang ayah menyakiti anaknya dengan cara yang tidak manusiawi? Inikah buah dari pengorbanan yang ia jalani dalam mengarungi biduk rumah tangganya bersama Hajar?
    Konflik bathin mendera pikirannya. Namun mimpi pada malam-malam berikutnya menguatkan dugaan bahwa mimpi tersebut adalah wahyu Allah. Dia Maha Kuasa dan Maha Berkehendak.
    Di pagi hari yang cerah usai mimpi malam yang mencekam itu ia ceritakan kepada Ismail. Tanpa dinyana, Ismail menatap mantap dengan jawaban penuh keyakinan, "ayah, lakukanlah apa yang diperintahkan. Insya Allah ayah akan melihat ananda sebagai anak yang sabar".
    Saat Ibrahim meminta pendapat Hajar, isterinya itu malah tersenyum lega. Sang ibu tidak goncang saat mengetahui perintah ilahi tersebut. Kasih sayang, kelembutan, kesabaran tak mempengaruhi emosi keibuannya. Yang ia lakukan adalah berserah diri kepada Allah dengan segala kerendahan hati. Sejarah mencatat keberhasilan Hajar dengan keimanannya yang tangguh. Allah memerintahkan menyembelih Ismail, maka sejak saat itu kaum Muslimin menyebutnya sebagai hari Nahr (hari berkurban) bagi kaum Muslimin.
    Seorang ayah yang berbakti, seorang ibu yang taat, dan anak yang sholih, siapakah yang tidak menginginkannya? 

    Tahiyyatan lahaa alfa tahiyyatin fii kulli zamaan wa makaan. 

    Penulis aktif dalam dakwah cyber:  http://religiusta.multiply.com/journal/item/41



    Dan setelah Musa cukup umur dan sempurna akalnya, Kami berikan kepadanya hikmah (kenabian) dan pengetahuan. (QS. 28:14).

    ALLAH menghendaki sesuatu 'untuk' kita dan menghendaki sesuatu 'dari' kita. Manakala Allah swt menghendaki sesuatu dari dan untuk kita, itu pertanda ada sebab atau faktor-faktor behind-screen, yang, terkadang luput dari perhatian kita. Secara eksplisit al-Quran menyatakan seperti itu:

    Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin, serta menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi). (QS. 28:5).


    Berfikir Matang



    Di sini kita lihat beberapa fenomena. Diantaranya,
    Pertama, Allah SWT menyuruh ibunda Musa untuk menyusui Musa yang masih bayi itu. Lalu ia pun menyusui Musa agar 'mengumpulkan' air susunya. Namun yang terjadi kemudian Musa tidak pernah menerima air susu siapapun, selain air susu ibunya. Kalau saja Allah swt tidak menyuruhnya menyusui Musa, tentunya lebih baik menyuruh orang lain (baik khadimah/babysitter, atau orang lain) yang menggantikan posisinya. Tapi itu tidak terjadi.
    Kedua, sebelum dan sesudah Musa dilahirkan, ibunda Musa dikecam rasa takut luar biasa. Bayangkan, kelahiran bayi laki-laki adalah ancaman mati. Algojo-algojo Firaun siap menebas leher bayi siapa saja yang berjenis kelamin laki-laki. Lalu, Allah swt memberi petunjuk: memerintahkannya untuk menjatuhkannya ke Yamm (lautan lepas), agar sang bayi melanglang, jauh dari jangkauan para intelijen Firaun. (Sekali lagi, ke lautan lepas, bukan ke sungai Nil, apalagi Citarum!). Itu artinya bahwa memang ada rasa takut, sedih, sekaligus 'kelapangan' hati melepas Musa yang masih bayi dan tak mengerti apa-apa. Fakhrurraji, dalam tafsirnya, memberi analisa lebih lanjut:
    "ini adalah suatu isyarat tentang keyakinan yang mantap kepada Allah swt. Keyakinan atau tsiqah: adalah salah satu bentuk penyerahan diri secara mutlak". Tidak bersedih akan masa lalu, tidak takut akan masa depan. Risalahlah yang menjadi tujuan utama. Musa sudah masuk 'nominasi' untuk meraih gelar kenabian.
    Lalu, Musa mencapai usia akil baligh, beroleh kesempurnaan akal, kearifan dan hikmah. Tentu semua berkaitan dengan hati ibu yang (sekalipun) naluri keibuannya terus dipicu konflik. Komposisi hati tersusun diantara emosi atau rasa, sementara –barangkali- emosinya kontradiksi dengan keputusannya yang tiba-tiba. Maka, binasa sudah langkah establisasi untuk sang anak tercinta, hancur lebur hatinya menghadapi purna kejutan: ketika kecil, sang anak dihantui teror, ketika dewasa dalam bayang-bayang keganasan Firaun.
    Tapi Musa tetaplah Musa. Kendati berada dalam asuhan istana sang raja, selain fisiknya kuat, hati dan spiritualitasnya tetap terjaga, tidak terkontaminasi arogansi Firaun, manusia yang mengaku Tuhan itu. Musa tak perlu hidup di zaman ini, yang mengenal agama sebagai "the ultimate thing" doang. Setelah itu, hilang bersama fulus atau hujan Dollar.
    Di balik kesempurnaan jasad dan ruh tersebut terkandung hikmah, yaitu, proses permulaan 'pengembalian' (intikas) kepada bentuk asal, seperti dalam firman Allah swt:
    Dan barangsiapa yang Kami panjangkan umurnya, niscaya Kami kembalikan mereka kepada kejadian(nya). (QS. 36[Yaasin]:68).
    Maksudnya: Kami hentikan, tidak Kami tambahkan lagi kekuatan fisik dan mentalnya, juga tidak Kami kurangi, kecuali para nabi. Dalam pengertian lainnya, Musa as memang tengah berada di usia 'stabil'. Masa mudanya sudah berlalu, akalnya sudah matang, jiwanya sehat, dan inderanya walafiat. Sampai pada batas dimana naluri manusia tidak bisa bertambah lagi, kecuali para nabi.
    Begitu juga Musa alaihissalam.
    Ini menjadi pelajaran bagi "manusia" sesudahnya: agar memilih target masa panjang dipersenjatai dengan agama, norma dan good morality, yang memungkinkannya meniti anak tangga menuju ke ketinggian martabat.

    ***

    Sekarang timbul pertanyaan. Dalam surah Yusuf ayat 22 disebutkan: Dan tatkala dia cukup dewasa, Kami berikan kepadanya hikmah dan ilmu, tanpa menyebutkan "…dan sempurna akalnya" (seperti yang tertera dalam surah Al-Qashash mengenai kisah nabi Musa as di atas). Mengapa?
    Ahli tafsir memahami bahwa itu untuk menarik perhatian umat Islam sebagai manusia yang memiliki naluri hubbul istithla' (hobi mengeksplorasi), sampai hati kita tenang. Ayat itu juga tidak perlu diperbandingkan, karena wahyu memang berbeda. Wahyu yang diturunkan kepada nabi Yusuf as adalah "wahyu ilham", sementara wahyu untuk Musa as adalah "wahyu risalah". Itu artinya bahwa wahyu risalah diperlukan nadj (kematangan berfikir) dan istiwa (kesempurnaan akal), berbeda dengan wahyu ilham yang tidak memerlukan dua hal tersebut.
    Dengan kata lain, Yusuf as tidak perlu sampai menunggu kesempurnaan akal setelah ia mencapai akil baligh. Terbukti, ketika Yusuf dilemparkan ke dalam sumur oleh saudara-saudaranya, saat itu wahyu turun:
    "Sesungguhnya kamu akan menceritakan kepada mereka perbuatan mereka ini, sedang mereka tiada ingat lagi". (QS. 12:15).
    Benar, karena manakala Yusuf bermimpi melihat bintang gemintang, matahari dan bulan bersujud kepadanya, langsung ia ceritakan kepada ayahnya.
    Adapun Musa as., saat akil baligh dan berfikir matang, sama sekali tidak melakukan hal tersebut, karena ia sendiri tidak tahu apa yang dikehendakinya kecuali sesudah memasuki usia senja, melewati masa perbudakan, berjalan bersama keluarganya, hingga melihat api di lereng gunung Tursina. Wallahu a'lam. [] 

    Penulis aktif dalam dakwah di dunia maya: http://religiusta.multiply.com/journal/item/35

    Iman secara bahasa berarti percaya. Namun para ulama membuat terminologi bahwa yang dimaksud iman adalah: berkeyakinan dalam hati, diucapkan secara lisan, dan diaplikasikan dengan nyata. Dari sini dapat diambil kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan keimanan di sini adalah keimanan yang konsisten (tasdiqan jaziman) terhadap semua yang diwahyukan Allah, baik akidah, ibadah, akhlak dan semua hal yang 'maklum' dalam agama.

     

    IMAN YANG MEMBAWA KE SURGA

     

    Ketika Rasulullah saw bertanya tentang hakekat iman, Jibril alahissalam menjawab: iman adalah kamu percaya kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari Akhir, dan qada/qadar yang baik ataupun yang buruk.
    Alquran lebih jauh memerinci apa yang wajib diimani. Allah swt berfirman: Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): "Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya" (QS. 02:85).
    Untuk membuktikan kebenaran beriman atau tidak seseorang, maka pengucapan secara lisan itu harus dibarengi dengan keyakinan di dalam hatinya serta dinyatakan dengan arkan (rukun-rukun). Kalau ini terbukti ada pribadi seseorang maka orang tersebut dinyatakan sebagai orang beriman (mu'min).
    Al-Quran menafikan orang-orang yang menyatakan beriman di mulut saja sementara hatinya ingkar. (QS. 02:08). Al-Quran juga menyatakan tentang perilaku orang-orang Badui. Dalam al-Quran Allah swt berfirman: Orang-orang Arab Badui itu berkata: "Kami telah beriman". Katakanlah: "Kamu belum beriman, tapi katakanlah 'kami telah tunduk', karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu. (QS. 49:14).
    Benar bahwasanya sesuatu yang kasat mata dan pengucapan lewat lisan sudahlah cukup untuk meyakinkan manusia. Ini tentunya hanya berlaku di dunia, adapaun di Akherat tentu tidak semudah itu, maka pengucapan lisan wajib disertakan keyakinan yang mantap dalam hati disamping diaplikasikan dengan pelaksanaan ibadah dengan anggota badan (aljawarih). Ibadah itu termasuk "ibadah mahdhoh" (sholat, zakat, puasa, haji dsb) maupun "ibadah ghair-mahdhoh" (tolong menolong, berbuat baik terhadap sesama, memberi santunan, dll).
    Iman yang benar kepada Allah swt berdampak positif pada kehidupan manusia dan kepada hidayahnya sendiri. Hal ini ditegaskan dalam al-Quran: "…dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya". (QS. 64:11).
    Orang-orang yang beriman kepada Allah sudah cukup membawa pemeluknya ke dalam Surga yang dijanjikan, kendatipun dirinya bergelimang dengan maksiat. "Tiadalah seorang hamba yang berkata Tidak ada tuhan selain Allah kemudian ia mati atas (keyakinannya) itu, melainkan ia masuk Surga", begitu sabda Rasulullah SAW. Kemudian sahabat, Abu Zar Algiffari, bertanya: "kalau ia berzina dan mencuri?" Jawab Rasulullah, "sekalipun ia berzina, sekalipun ia mencuri".
    Tetapi ini bukan pembenaran bagi mereka yang suka melakukan maksiat untuk terus melakukan aksinya, melainkan agar mereka bersegera bertaubat kepada Allah swt dan jangan berputus asa dari rahmat Allah. Wallahu a'lam.[]

    Penulis aktif berpartisipasi di: http://religiusta.multiply.com/journal/item/21

     10 NASEHAT HASAN AL-BANNA 

    Taufik Munir
       

    1. Dirikanlah sholat saat engkau setiapkali mendengar azan, dalam keadaan apapun.
    2. Bacalah al-Quran, telaah isinya, dengarkan, dan berzikirlah kepada Allah. Jangan gunakan sebagian waktumu untuk hal-hal yang tidak bermanfaat.
    3. Bersungguh-sungguhlah untuk berbicara bahasa Arab fusha'. Karena itu termasuk syiar Islam.
    4. Jangan banyak berdebat dalam hal apapun, karena bersikap hipokrit tidak akan pernah mendatangkan kebaikan.
    5. Jangan banyak tertawa, karena hati yang maushul kepada Allah adalah hati yang tenang dan stabil.
    6. Jangan bercanda, karena umat yang bersungguh-sungguh tidak mengenal apapun selain kesungguhan.
    7. Jangan keraskan suaramu melebihi yang dibutuhkan pendengar, karena hanya akan mengakibatkan serampangan dan menyakitkan (orang lain).
    8. Jauhi menggunjing orang lain dan melukai perilaku orang, dan janganlah berbicara kecuali yang baik.
    9. Lakukanlah 'ta'aruf' (perkenalan) dengan saudara-saudara yang engkau temui meskipun, mereka tidak menuntutmu demikian. Sesungguhnya pondasi dakwah kita adalah cinta dan saling mengenal.
    10. Kewajiban kita lebih banyak daripada waktu yang tersedia. Maka bantulah orang lain untuk memanfaatkan waktunya. Kalau engkau punya keperluan, maka segeralah tunaikan kebutuhannya. []

    Sumber: http://religiusta.multiply.com/journal/item/30

    , ,

    "Susun dan Sebar" dalam Retorika Al-Quran

    Taufik Munir



    LAFF WAN NASYR merupakan tehnik komunikasi klasik yang menitikberatkan pada penyusunan kalimat yang terdiri dari kata-kata untuk kemudian disebar satu persatu --baik secara beraturan atau tidak--, dengan satu keyakinan bahwa pendengar akan "merespon" dengan asumsi bahwa si 'pembicara' atau 'penulis' tahu dari indikasi-indikasi yang termaktub dalam lafaz atau maknanya.
    Kesimpulannya, Laff Wa Nasyr hanyalah menyebutkan dua hal atau lebih baik secara detail atau secara global. Kalau penyebutannya dengan detail berarti kita mengajukan dua hal atau lebih kemudian diurai satu persatu. Sedangkan kalau penyebutannya secara global saja, berarti anda cukup membuat satu kalimat saja tapi komprehensif (mengandung penafsiran lebih).
    Berdasarkan definisi tadi, Laff wa Nasyr terbagi pada dua bagian:

    BAGIAN PERTAMA: SUSUNAN TERPERINCI
    Susunan jenis ini ialah kata-kata yang disebar sedetail mungkin. Penyebaran kata tersebut juga ada yang beraturan (tartib) dan ada pula yang tidak beraturan (ghair tartib).
    Contoh penyebutan yang beraturan disebutkan dalam surah al-Qashash ayat 73.

    Dan karena rahmat-Nya, dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebahagian karunia-Nya (pada siang hari).

    Pada ayat ini Allah swt menyebutkan dua hal, yaitu siang dan malam. Allah swt memberitahu bahwa karena rasa kasih sayang-Nya kepada umat manusia Ia memberikan dua garis waktu yaitu siang dan malam. Untuk apa? Karena al-Quran menyebutkan dua hal tadi, maka jawabannya pun harus dua hal pula. Pertama, Allah menciptakan malam supaya kita bisa istirahat ("supaya kamu beristirahat padanya"). Kedua, Allah menciptakan siang supaya kamu bisa membuka aktifitas baru untuk mencari nafkah ("supaya kamu mencari sebahagian karunia-Nya").

    …dia jadikan untukmu malam     --> 1
    dan siang                                               --> 2
    supaya kamu beristirahat di malam itu                                 --> 1
    dan supaya kamu mencari sebahagian karunia-Nya --> 2

    Lihat, kata "malam" pada ayat di atas disebutkan pada urutan pertama. Lalu hikmahnya pun disebutkan pada urutan pertama. Sedangkan "siang" yang disebutkan pada urutan kedua, hikmahnya pun disebutkan pada urutan kedua. Tertib. Dengan demikian pembaca atau pendengar tidak perlu berfikir dua kali untuk menyatakan mana dipasangkan kemana, atau tertukar antara yang satu dengan yang lain.
    Contoh penyebutan yang tidak beraturan disebutkan dalam sebuah syair:

    Bagaimana aku bisa terhibur,
    sedangkan engkau seperti tumpukan pasir yang berkelok,
    bagai dahan, atau kijang betina
    kedip matanya, yang tinggi dan selalu membuntuti.

                Kedipan matanya ditujukan kepada 'kijang betina', 'yang tinggi' untuk 'dahan', dan 'membuntuti' untuk 'tumpukan pasir'.
               
    BAGIAN KEDUA: SUSUNAN GLOBAL
    Diterangkan di atas bahwa Laff wa Nasyr ada yang terbentuk secara terperinci, namun ada pula yang mujmal, alias globalnya saja.
    Kendatipun pada bagian kedua ini penyebutannya global, namun komplit. Itu artinya sekalipun lafalnya memang singkat, namun makna yang tersimpan mengandung kalimat yang 'sejodoh' dengan kata bentukannya.  
    Misalnya:

    Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata: "Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nasrani". (QS. Al-Baqarah: 111).

    Ayat ini menyebut tentang sesumbar dua kelompok penganut agama samawi selain Islam, yaitu Yahudi dan Nasrani. Kedua kelompok ini menyatakan bahwa tidak ada yang bakal masuk surga kecuali kelompok mereka. Masing-masing 'kekeuh' dengan pendapatnya sendiri.
    Pertanyaan yang timbul: dimana Laff wa Nasyr tipe kedua yang dimaksud? Indikasi adanya Laff wa Nasyr bisa dilacak dari adanya kataganti (dhamir) orang ketiga plural pada ayat tersebut, yaitu: "mereka". Mereka yang dimaksud tentu saja Yahudi dan Nasrani. Indikator kedua yaitu kata sambung "atau". Jadi kira-kira yang dimaksud ayat tersebut berbunyi:

    Dan Yahudi berkata:
    "Sekali-kali tidak akan masuk surga
    kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi",                          --> 1
    atau Nasrani berkata:
    "Sekali-kali tidak akan masuk surga
    kecuali orang-orang (yang beragama) Nasrani".            --> 2


    Padahal aslinya:
    "Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata..." dst.  

                Susunan diantara dua kalimat tadi digelar dengan singkat, tapi padat. Barangkali berangkat dari satu keyakinan bahwa pendengar pasti mampu menjawab kata-kata kedua kelompok tadi. Selain itu, sekalipun susunan kalimatnya singkat namun tetap aman dari ambiguitas. Alasannya, pendengar juga maklum perseteruan abadi dua kelompok tersebut yang saling menyesatkan satu sama lain dengan tuduhan klise bahwa selain kelompoknya tidak akan masuk surga. Wallahu a'lam #

    Terima kasih guruku, KH. Uuf Zaki Ghufron.

    , ,

    SEJAK kemunculannya, kisah islami berkaitan dengan al-Quran dan kisah-kisah di dalamnya. Kisah-kisah (dalam al-Quran) itu membentuk cerita yang terpenting dan paling rinci. Karena itu al-Quran menyebut dirinya sebagai "ahsanul qashas" dan "alqashas al-haq" (kisah-kisah terbaik dan benar). Dalam kisah-kisah menyorot balik perbuatan suatu bangsa, negara, umat, nabi dan rasul terdahulu. Kisah-kisah itu mampu menggiring sejarah tentang eksistensi manusia dengan kapabilitas intelegensia tertentu yang disebut dengan "Ulul Albab" (manusia cendikia). Imam Fakrurroji bahkan menyebut kisah-kisah qurani tersebut sebagai "kumpulan kalimat universal yang menunjuk jalan agama, membimbing pada kebenaran dan membantu keinginan sukses ". (Imam Fakrurroji, Tafsir Al-Kabir). Imam Zamaksyari, dalam tafsirnya, menyebut kisah dalam al-Quran sebagai "kisah-kisah yang melembutkan hati".
                Kisah para nabi menempati posisi paling awal dalam al-Quran barangkali karena nabi dan sejarahnya berperan sangat penting dalam sejarah hidup manusia, atau bahkan dijadikan sebagai simbol pemerdekaan jiwa zoon politicon manusia, atau sebagai rekaman perjalanan spiritual imani daripada proses perjalanan politik-sosial yang diwakili sejarah politik. Karena itu, para sejarahwan klasik kerap menghubungkan kedua dimensi sejarah antropologis: sejarah rasul dan raja, ---seperti dicatat oleh Atthabari dalam kitab sejarahnya yang populer itu---, atau antara manifestasi sejarah antropologi dan interiornya, seperti ditegaskan oleh Ibnu Khaldun. Kisah para nabi ini merupakan basic pembelajaran diri kanak-kanak, sekaligus sebagai upaya pengenalan sunnah alam sejak dini yang pada akhirnya mewujudkan kehendak ilahi.
                Kisah umat dan nabi terdahulu diformat dan ditinjau ulang periwayatannya dari sumber aslinya (al-Quran). Pada masa Rasulullah, para pengkisah dan penasehat dilakukan secara verbal (leluri). Begitupula pada abad-abad sesudahnya. Misalnya kisah-kisah agamis tersebut diriwayatkan oleh para pakar hadis, pengkhabar, sejarahwan dalam kitab sunnah, kitab sirah, tafsir, sejarah, tasawuf dan lain-lain. Lalu pada tahap selanjutnya beralih pada fase sastra umum dan dongeng klasik masyarakat. Kita bisa ambil beberapa contoh, diantaranya sejarah Ibnu Hisyam, sirah Al-Halaby, dan kitab-kitab sejarah klasik (seperti At-Thabari, al-Ya'qubi, Ibnu Katsir, dan Ibnu Khaldun). Demikian pula kitab-kitab sejarah agama, seperti Milal wa Nihal karangan syekh Shahrastani, kitab-kitab tafsir dan hadis, kitab-kitab khusus kisah para nabi (kitab-kitab ini cukup mewakili referensi kisah islami yang dimulai dari kisah-kisah para nabi hingga kisah masyarakat Badawi yang jauh terpencil, hingga sirah (sejarah hidup) Nabi Muhammad saw. Kitab-kitab narasumber ini kemudian meluas, mencakup kitab-kitab sastra umum seperti “al-Aqdu al-Farid” karangan Ibnu Abdu Rabbih, “Amali” karya Abu Ali Al-Qali, Al-Kamil karya Al-Mubarrod, dan lain-lain. Sebagai catatan, cerita rakyat juga mengandung sebagian kisah para nabi (seperti dalam sirah 'Antarah). Para pengarang dan penyusun kisah para nabi ini menambahkan nash-nash al-Quran sebagai pondasi dalam membangun konstruksi kisah dan sirah dalam kitabnya. Ini yang kemudian kita kenal dengan "kisah-kisah israiliyat" yang dilarang itu. Sementara di bagian lain ada pula yang memuat legenda Persia, India dan Yunani yang disebut dengan al-asathir al-awwalun atau legenda orang-orang lama, cerita Arab Purba dan legenda Arab, serta sejarah Arab pra-Islam. Ini membuat kisah religius menjadi gudang kekayaan dengan materi pertamanya yaitu kreasi seni sastra islami dan sejarah emosi manusia yang berupaya menuntun hidayah dan agama yang benar. 
    Apabila para sejarahwan tidak melihat materi yang melimpah ruah ini sebagai materi yang "reliable" untuk dijadikan sebagai bahan sejarah –seperti dimensi waktu dan peristiwa tertentu-, maka itu tidak akan menghalangi para sejarahwan dan pengarang sirah klasik untuk tetap mendulang instrumen yang melimpah tersebut. Seperti yang dilakukan pengarang sirah Al-Halaby yang memandang sirahnya sebagai budak yang tidak mengenal halal-haram, pun tidak mengaitkannya dengan hukum. Yang boleh dipertikaikan dalam pandangan ulama modern, dan yang mewajibkan penelitian dan penggalian data tentang validitas berita tertentu hanyalah yang berkenaan dengan hudud (sanksi-sanksi syariat) dan mengetahui halal-haram. Demikian yang disinggung Zaghlul Abdul Hamid dalam "Al Anbiya wa Al Mutanabbi'un qabla Zuhur al-Islam" (Nabi dan Kelompok Pengaku Nabi Pada Masa Pra-Islam).
    Sejarah keimanan manusia berkaitan erat dengan para nabi sejak awal penciptaan dan kebangkitannya. Kabar klasik juga menyinggung bahwa jumlah para nabi melampaui hitungan angka. Namun Nubuwah, seperti yang digambarkan al-Al-Quran, berkaitan erat dengan kehendak dan keesaan ilahi.
    "yanzilu al malaikatu birruuhi min amrihi ala man yasyaau min ibaadihi an anziruu annahuu laa ilaaha illaa ana fattaquun".
    Allah swt mengutus para rasul-Nya kepada semua umat, tanpa kecuali, menyeru mereka agar menyembah-Nya dan menjauhi thaqhut, serta mengimani rasul-rasul yang diwahyukan dan rasul terdahulu. Kisah-kisah ini dikenal oleh mereka yang disebut sebagai ulama. Maka, hanya keadilan Tuhanlah yang akan menyiksa bangsa-bangsa terdahulu yang mengingkari keberadaan mereka.
    "wa maa kaana roibbuka muhlikal quraa hatta yab'atsa fi ummiha rasuulan yatluu 'alaihim ayaatina wa maa kunnaa muhlikil quraa illaa wa ahluhaa zaalimuun".
    Al-Quran tidak membatasi nama-nama para nabi melainkan yang asasi: Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, kemudian Muhammad saw penghulu segala nabi. Kemudian dilanjutkan dengan Daud, Sulaiman, Ya'qub, Yusuf, Ayyub, Ismail, Syuaib, Hud dan Shalih alaihimussalam. Nabi-nabi ini tergabung dalam kelompok Ibrani, Suryani dan Arab, yaitu bangsa-bangsa yang di arabkan yang membentuk peradaban pertama manusia di wilayah Timur Dekat kuno. Demikian para sejarahwan klasik menyebutnya terhadap fantasi mereka dalam mengkalkulasi jumlah para nabi. Sirah Halabi menyebutkan nabi Bani Israil itu ada seribu. dan sampai Wahab bin Munabbih periwayat asathirul awwalun dengan perbagai jumlah para nabi semuanya berjumlah 124 ribu!! Adapun para rasul terbatas jumlahnya berdasarkan al-Quran, yaitu hanya 25 nabi dan rasul. Karena rasul itu lebih khusus daripada Nabi, setiap rasul adalah nabi, dan tidak semua nabi adalah rasul. (by: Taufik Munir) []


    Silakan merefer pada Al-Adab Al-Islami, karya Al-Kailani.


    “Nuun.
    Demi Pena dan apa yang mereka tuliskan.”

    (QS. Al-Qalam: 1-2).



    Kalau Anda suka menulis, bekerja sebagai penulis atau memang aktifitas Anda menulis. Atau barangkali Anda punya hobi menulis. Anda boleh bangga dengan pena Anda. Apa pasal? Sebab pada Lailatul Qadar, di bulan Ramadhan itu, wahyu pertama diturunkan. Malaikat Jibril membawa pesan ilahi secara lengkap menjadi satu surah secara utuh. Dalam surah itu disebutkan kata qalam atau pena.


    “Bacalah, dan Tuhanmu yang Maha Mulia yang mengajari dengan qalam, Yang Mengajari manusia apa yang tidak ia ketahui.”


    Ayat ini seakan menarik perhatian umat Islam saat itu. Bagaimana tidak, istilah "pena" belum dikenal di dunia Arab pada saat itu. Buta hurup merajalela sedemikian parah, dan sulit diberantas. Sementara kejahiliyahan menjadi-jadi. Yang berinteraksi dengan pena di awal kedatangan Islam bisa dihitung dengan jari satu tangan. Anehnya, tiba-tiba saja al-Quran turun dan menyebutkan kata pena tanpa tedeng aling-aling.


    Sekarang kita tahu sebabnya mengapa wahyu pertama yang diturunkan itu mengajak umat manusia untuk membaca, dengan pena sebagai perantara pertama untuk menghasilkan karya tulis. Karena ternyata pena adalah sarana pendidikan dan intelektualitas yang paling umum digunakan di manapun berada. Pena juga mampu menyihir, mendakwah, juga mempengaruhi opini publik. Fakta tersebut belum pernah terungkap selain pada era kemajuan di segala bidang seperti sekarang ini.


    Zaman baheula, who knows? Allah mengetahui hakekat pena yang sebenarnya. Allah menyinggung kata pena di permulaan detik-detik risalah untuk Nabi Terakhir dan di awal kewahyuannya, sedangkan nabi Muhammad SAW bukanlah seorang penulis yang mencatat huruf-huruf, kata dan kalimat dengan pena. Ini menegaskan sekali lagi bahwa al-Quran turun dari langit bukanlah buatan manusia seperti klaim musuh-musuhnya.



    Pena: Nama Surah Al-Quran


    Kalau sering membaca al-Quran, pada juz ke 29 Anda akan segera menemukan nama surah AL-QALAM (Sang Pena). Dalam surah ini Allah swt bersumpah atas nama pena:

    “Nuun. Demi Pena dan apa yang mereka tuliskan.”


    Kata ahli tafsir, surah ini termasuk surah kedua dari segi urutan turunnya walau dalam mushaf al-Quran yang ada pada kita tercatat dalam urutan ke 68. Kalau memang Anda si empunya pena, sekali lagi, bolehlah Anda berbangga. Tapi syaratnya sang pena harus mencerminkan representasi ‘gaul’ Anda dengan sang Khalik, karena Ia yang melindungi si empunya pena dari terpeleset lidah (eh.. terpeleset pena), melampaui batas hingga going to far, menimbulkan excess, tendensius atau mungkin prasangka buruk kepada orang lain. Sebab sejak awal pena identik dengan Sang Pencipta langit dan bumi. Di wahyu pertama itu Allah swt berfirman:


    “Bacalah, dan Tuhanmu yang Maha Mulia yang mengajari dengan qalam, Yang Mengajari manusia apa yang tidak ia ketahui.”

    Kalau sang penulis tidak punya “kontak” dengan Allah, maka semua karya-karyanya tanpa makna. Kalaupun sukses, maka kesuksesannya semata-mata di dunia belaka, sementara di alam baka sana buah pena akan mengering, bahkan menjelma menjadi makhluk yang menjadi saksi terhadap “apa yang mereka tuliskan”. Dalam hal ini, sangat malang nasib mereka. Ya pena-nya, ya tuannya. (Taufik Munir)

    Pada suatu ketika Nabi SAW bersabda, "wahai kaum wanita, perbanyaklah sedekah, karena aku lihat golongan kalian yang paling banyak menghuni neraka." Lantas seorang diantara mereka bertanya, "wahai baginda yang mulia, mengapa kami yang paling banyak menghuni neraka?". Nabi menjawab, "kalian banyak mengutuk dan mengabaikan suami. Aku tidak melihat orang-orang yang kurang akal dan agamanya yang paling banyak selain dari golongan kalian". Wanita lainnya bertanya, "wahai Rasul, apa yang engkau maksud dengan kurang akal dan agama?". Nabi menjawab, "bukankah kesaksian wanita sama dengan setengah kesaksian pria, dan bukankah banyak wanita yang berdiam diri, berhari-hari tidak shalat?". (HR. Bukhari-Muslim).

    'Kurang akal' dalam Hadis di atas bukan berarti bodoh, kurang cerdas atau penistaan terhadap kemampuan wanita dalam berfikir dan mengurusi masalah. Secara historis al-Quran menyebutkan bahwa Bilqis mampu menandingi daya pikir seluruh kaumnya, yang mengindikasikan bahwa intelektualitas ratu dari negeri Saba itu tidak tertandingi. Al-Quran juga menceritakan wanita-wanita mulia yang berlimpah kebaikan, pandai bersabar, dan mereka yang penuh pengorbanan.

    Maryam, Asiyah, dan ratu Bilqis tadi hanyalah beberapa contoh. Wanita yang dicatat al-Quran sama banyaknya dengan jumlah pria. Namun Allah SWT telah menciptakan tabiat wanita berbeda dengan tabiat pria. Diantara satu 'tabiat' wanita adalah banyak lupa sehingga ia perlu orang lain yang mengingatkannya. Tak heran jika al-Quran menyebutkan kesaksian dua wanita sebanding dengan satu pria, alasannya "supaya jika seorang lupa maka seorang lagi mengingatkannya" (QS. Al-Baqarah [2]: 282).

    Sedangkan pengertian 'kurang agama' adalah 'dispensasi'. Dikala tengah menstruasi, wanita tak mungkin melaksanakan shalat dan puasa. Allahlah yang menciptakan perubahan biologis wanita seperti itu, karenanya Allah memberikan dispensasi sekaligus kompensasi yang jarang diperoleh kaum Adam. Sejarah banyak mencatat prestasi ibadah wanita-wanita salehah yang tidak tertandingi kaum pria.

    Wanita, seperti halnya pria, mempunyai dualisme kecenderungan pada kebaikan atau keburukan, taat atau maksiat, memimpin kebaikan atau mungkin gembong kejahatan. Wanita yang menjadi imam kebajikan mampu mengimami umat dalam berjuang dan berkorban. Wanita yang menjadi "imam" kejahatan akan mengomandoi umat kepada dekadensi. Karena itu Rasulullah SAW bersabda: "sesungguhnya kebaikan wanita beriman sama seperti amal perbuatan 70 para shiddiqin, dan sesungguhnya wanita penjahat lebih dahsyat daripada perlakuan 1000 orang penjahat". (HR Abu Na'im).

    Umat Islam paling pandai mengalahkan nafsu, mampu membentengi diri dari kemauan syaitan, bisa melawan keinginan busuk, bahkan tidak kemaruk terhadap perhiasan dunia. Ironisnya tidak sedikit yang ternyata malah jatuh tersungkur di hadapan wanita. Karena itu Yahudi punya trik-trik sendiri jika berperang menghadapi kaum Muslimin. Jika gagal unjuk kekuatan di hadapan barisan militer umat Islam, mereka akan suguhi wanita-wanita cantik. Karena itu, penggunaan unsur wanita di layanan publik dan sejumlah iklan yang mampu merangsang animo dan memancing fitnah merupakan sunnah qadimah (gaya baheula) Yahudi. Kendatipun waktu dan tempat berganti, sunnah kaum kafir tidak akan pernah berubah. Yang menjadi pertanyaan: siapa sebenarnya yang kurang akal?

    Keterangan gambar: Anousheh Ansari, Astronot Muslimah berkebangsaan Iran

    Rahasia Kecerdasan Orang Yahudi

    (Artikel Dr. Stephen Carr Leon)

    Patut menjadi renungan bersama. Stephen menulis dari pengamatan langsung. Setelah berada 3 tahun di Israel karena menjalani housemanship dibeberapa rumah sakit di sana. Dirinya melihat ada beberapa hal yang menarik yang dapat ditarik sebagai bahan tesisnya, yaitu, "Mengapa Yahudi Pintar?" Ketika tahun kedua, akhir bulan Desember 1980, Stephen sedang menghitung hari untuk pulang ke California, terlintas di benaknya, apa sebabnya Yahudi begitu pintar? Kenapa tuhan memberi kelebihan kepada mereka? Apakah ini suatu kebetulan? Atau hasil usaha sendiri? Maka Stephen tergerak membuat tesis untuk Phd-nya. Sekadar untuk Anda ketahui, tesis ini memakan waktu hampir delapan tahun. Karena harus mengumpulkan data-data yang setepat mungkin. Marilah kita mulai dengan persiapan awal melahirkan. Di Israel, setelah mengetahui sang ibu sedang mengandung, sang ibu akan sering menyanyi dan bermain piano. Si ibu dan bapak akan membeli buku matematika dan menyelesaikan soal bersama suami. Stephen sungguh heran karena temannya yang mengandung sering membawa buku matematika dan bertanya beberapa soal yang tak dapat diselesaikan. Kebetulan Stephen suka matematika. Stephen bertanya, "Apakah ini untuk anak kamu?" Dia menjawab, "Iya, ini untuk anak saya yang masih di kandungan, saya sedang melatih otaknya, semoga ia menjadi jenius." Hal ini membuat Stephen tertarik untuk mengikut terus perkembangannya. Kembali ke matematika tadi, tanpa merasa jenuh si calon ibu mengerjakan latihan matematika sampai genap melahirkan.

    Hal lain yang Stephen perhatikan adalah cara makan. Sejak awal mengandung dia suka sekali memakan kacang badam dan korma bersama susu. Tengah hari makanan utamanya roti dan ikan tanpa kepala bersama salad yang dicampur dengan badam dan berbagai jenis kacang- kacangan. Menurut wanita Yahudi itu, daging ikan sungguh baik untuk perkembangan otak dan kepala ikan mengandungi kimia yang tidak baik yang dapat merusak perkembangan dan penumbuhan otak anak didalam kandungan. Ini adalah adat orang orang Yahudi ketika mengandung. menjadi semacam kewajiban untuk ibu yang sedang mengandung mengonsumsi pil minyak ikan. Ketika diundang untuk makan malam bersama orang orang Yahudi.. Begitu Stephen menceritakan, "Perhatian utama saya adalah menu mereka. Pada setiap undangan yang sama saya perhatikan, mereka gemar sekali memakan ikan (hanya isi atau fillet)," ungkapnya. Biasanya kalau sudah ada ikan, tidak ada daging. Ikan dan daging tidak ada bersama di satu meja. Menurut keluarga Yahudi, campuran daging dan ikan tak bagus dimakan bersama. Salad dan kacang, harus, terutama kacang badam. Uniknya, mereka akan makan buah buahan dahulu sebelum hidangan utama. Jangan terperanjat jika Anda diundang ke rumah Yahudi Anda akan dihidangkan buah buahan dahulu. Menurut mereka, dengan memakan hidangan kabohidrat (nasi atau roti) dahulu kemudian buah buahan, ini akan menyebabkan kita merasa ngantuk. Akibatnya lemah dan payah untuk memahami pelajaran di sekolah.

    Di Israel, merokok adalah tabu, apabila Anda diundang makan dirumah Yahudi, jangan sekali kali merokok. Tanpa sungkan mereka akan menyuruh Anda keluar dari rumah mereka. Menyuruh Anda merokok di luar rumah mereka. Menurut ilmuwan di Universitas Israel, penelitian menunjukkan nikotin dapat merusakkan sel utama pada otak manusia dan akan melekat pada gen. Artinya, keturunan perokok bakal membawa generasi yang cacat otak ( bodoh). Suatu penemuan yang dari saintis gen dan DNA Israel. Perhatian Stephen selanjutnya adalah mengunjungi anak-anak Yahudi. Mereka sangat memperhatikan makanan, makanan awal adalah buah buahan bersama kacang badam, diikuti dengan menelan pil minyak ikan (code oil lever). Dalam pengamatan Stephen, anak-anak Yahudi sungguh cerdas. Rata rata mereka memahami tiga bahasa, Hebrew, Arab dan Inggris. Sejak kecil mereka telah dilatih bermain piano dan biola. Ini adalah suatu kewajiban. Menurut mereka bermain musik dan memahami not dapat meningkatkan IQ. Sudah tentu bakal menjadikan anak pintar. Ini menurut saintis Yahudi, hentakan musik dapat merangsang otak. Tak heran banyak pakar musik dari kaum Yahudi. Seterusnya di kelas 1 hingga 6, anak anak Yahudi akan diajar matematika berbasis perniagaan. Pelajaran IPA sangat diutamakan. Di dalam pengamatan Stephen, "Perbandingan dengan anak anak di California, dalam tingkat IQ-nya bisa saya katakan 6 tahun kebelakang!! !" katanya.

    Segala pelajaran akan dengan mudah di tangkap oleh anak Yahudi. Selain dari pelajaran tadi olahraga juga menjadi kewajiban bagi mereka. Olahraga yang diutamakan adalah memanah, menembak dan berlari. Menurut teman Yahudi-nya Stephen, memanah dan menembak dapat melatih otak fokus.. Disamping itu menembak bagian dari persiapan untuk membela negara. Selanjutnya perhatian Stephen ke sekolah tinggi (menengah). Di sini murid-murid digojlok dengan pelajaran sains. Mereka didorong untuk menciptakan produk. Meski proyek mereka kadangkala kelihatannya lucu dan memboroskan, tetap diteliti dengan serius. Apa lagi kalau yang diteliti itu berupa senjata, medis dan teknik. Ide itu akan dibawa ke jenjang lebih tinggi.

    Satu lagi yg di beri keutamaan ialah fakultas ekonomi. Saya sungguh terperanjat melihat mereka begitu agresif dan seriusnya mereka belajar ekonomi. Diakhir tahun diuniversitas, mahasiswa diharuskan mengerjakan proyek. Mereka harus memperaktekkanya. Anda hanya akan lulus jika team Anda (10 pelajar setiap kumpulan) dapat keuntungan sebanyak $US 1 juta! Anda terperanjat? Itulah kenyataannya. Kesimpulan, pada teori Stephen adalah, melahirkan anak dan keturunan yang cerdas adalah keharusan. Tentunya bukan perkara yang bisa diselesaikan semalaman. Perlu proses, melewati beberapa generasi mungkin?

    Kabar lain tentang bagaimana pendidikan anak adalah dari saudara kita di Palestina.

    Mengapa Israel mengincar anak-anak Palestina?

    Terjawab sudah mengapa agresi militer Israel yang biadab dari 27 Desember 2008 kemarin memfokuskan diri pada pembantaian anak-anak Palestina di Jalur Gaza. Seperti yang kita ketahui, setelah lewat tiga minggu, jumlah korban tewas akibat holocaust itu sudah mencapai lebih dari 1300 orang lebih. Hampir setengah darinya adalah anak-anak. Selain karena memang tabiat Yahudi yang tidak punya nurani, target anak-anak bukanlah kebetulan belaka. Sebulan lalu, sesuai Ramadhan 1429 Hijriah, Ismali Haniya, pemimpin Hamas, melantik sekitar 3500 anak-anak Palestina yang sudah hafidz al-Quran. Anak-anak yang sudah hafal 30 juz Alquran ini menjadi sumber ketakutan Zionis Yahudi. "Jika dalam usia semuda itu mereka sudah menguasai Alquran, bayangkan 20 tahun lagi mereka akan jadi seperti apa?" demikian pemikiran yang berkembang di pikiran orang-orang Yahudi. Tidak heran jika-anak Palestina menjadi para penghafal Alquran. Kondisi Gaza yang diblokade dari segala arah oleh Israel menjadikan mereka terus intens berinteraksi dengan al-Qur'an. Tak ada main Play Station atau game bagi mereka. Namun kondisi itu memacu mereka untuk menjadi para penghafal yang masih begitu belia. Kini, karena ketakutan sang penjajah, sekitar 500 bocah penghafal Quran itu telah syahid. Perang panjang dengan Yahudi akan berlanjut entah sampai berapa generasi lagi. Ini cuma masalah giliran. Sekarang Palestina dan besok bisa jadi Indonesia. Bagaimana perbandingan perhatian pemerintah Indonesia dalam membina generasi penerus dibanding dengan negara tetangganya. Ambil contoh tetangga kita yang terdekat adalah Singapura. Contoh yang penulis ambil sederhana saja, Rokok. Singapura selain menerapkan aturan yang ketat tentang rokok, juga harganya sangat mahal. Benarkah merokok dapat melahirkan generasi "Goblok!" kata Goblok bukan dari penulis, tapi kata itu sendiri dari Stephen Carr Leon sendiri. Dia sudah menemui beberapa bukti menyokong teori ini. "Lihat saja Indonesia," katanya seperti dalam tulisan itu. Jika Anda ke Jakarta, di mana saja Anda berada, dari restoran, teater, kebun bunga hingga ke musium, hidung Anda akan segera mencium bau asak rokok! Berapa harga rokok? Cuma US$ .70cts !!! "Hasilnya? Dengan penduduknya berjumlah jutaan orang berapa banyak universitas? Hasil apakah yang dapat dibanggakan? Teknologi? Jauh sekali. Adakah mereka dapat berbahasa selain dari bahasa mereka sendiri? Mengapa mereka begitu sukar sekali menguasai bahasa Inggris? Ditangga berapakah kedudukan mereka di pertandingan matematika sedunia? Apakah ini bukan akibat merokok? Anda fikirlah sendiri?


Top