,

    Rosbandi, M.Pd. Nama yang tidak asing lagi di kalangan pendidikan di kecamatan Mauk. Ia lahir di Tangerang, 17 Maret 1960. Menamatkan pendidikan dasarnya di Madrasah Ibtidaiyah Mathla'ul Anwar Tegal Kunir Lor pada tahun 1974. Setelah itu Pak Ros (nama panggilan beliau) belajar di PGA MA di tahun 1979. Pak Ros juga pernah menuntut ilmu di Pandeglang, tepatnya ketika masih duduk di madrasah Aliyah Mathla'ul Anwar Menes pada tahun 1981. Usai belajar di sana, lalu ia menggali ilmu agama di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta hingga tahun 1990. 

    -->
    Selama kuliah, "pak Ros" paling suka mengikuti aktifitas di HMI, KAMAJAYA dan IKMABI. Guru yang bersahaja ini paling suka dengan cerita-cerita humor dan kisah-kisah teladan tempo doeloe. Maka tak heran bila pria humoris ini lekas melekat di hati para muridnya sejak pengabdiannya di Madrasah di era 1990-an hingga sekarang. Karena pergaulannya yang supel, pak Ros sekarang menjabat sebagai Wakil Kepala Madrasah bidang Hubungan Masyarakat di MAN Mauk. Pesannya untuk anak-anak, "tingkatkan terus kualitas diri!".

    ,

    Bayi Faeruzi, S.Pd, lahir di Tangerang 26 Juni 1976. setelah menamatkan Sekolah Dasar Negeri 2 Mauk pada tahun 1989, SMPN 1 Mauk dan SMAN 1 Mauk, ia belajar di UHAMKA hingga tahun 2000.

    Satu hal yang menarik selama belajar di SMA, ia paling senang aktif di OSIS Seksi Kerohanian Islam (ROHIS). Hobi itu terus berlanjut hingga di Perguruan Tinggi, tepatnya di IMM. Selama di sekolah dan PT itu, ia juga senang dengan mata pelajaran Sosiologi dan Ekonomi Macro dan Micro. Namun jangan tanya dengan pelajaran-pelajaran eksakta. "Saya paling benci dengan pelajaran-pelajaran berhitung", tegasnya. Sebagai guru atau staf pengajar di MAN Mauk sejak tahun 1997, pak Bayi –begitu ia akrab disapa, begitu akrab dengan denyut nadi madrasah yang didirikan sejak 1995 ini. Karena itu pula, pak Bayi sering dipercaya untuk menjadi koordinator dan Pembina Seni setiap hari Sabtu.

    ,


    -->

    Ikhwan Kamil Marfu, ini adalah nama lengkap saya. Saya dilahirkan di Tangerang pada hari Rabu tanggal 10 Nopember 1965, di ”bubuan” Sumur Bor Desa Jati Kec. Mauk (sekarang Desa Buaranjati Kec. Sukadiri).
    Ketika menginjak usia sekolah sekitar umur 6 tahun, ditandai dengan tangan kanan dah bisa sampai ke telinga melintasi atas kepala, saya mulai disekolahkan di SDN Jatigintung I pagi. Waktu itu belum ada TK. Saya menyelesaikan SD pada tahun 1977. Pada waktu SD kelas 2, pada siang hari saya bersekolah juga di Madrasah Ibtidaiyah Mathla’ul Anwar Jati (sekarang SMP MA Buaranjati). Gak sampai kelas 6, karena kelas 5 dah ikutan ujian. (yah kalau sekarang ekselerasi, lah).
    Selesai tamat di SD kemudian melanjutkan sekolah di SMPN 1226 Mauk yang sekarang berubah nama menjadi SMPN I Mauk, yang kemudian tamat di tahun 1981. Ingat loh waktu kelas I SMP sekolahnya setahun setengah. Kebijakan pemerintah secara nasional ditambah setengah tahun. Makanya sekarang tahun ajaran baru dimulai pada bulan Juli, padahal sebelumnya tahun ajaran baru dimulai pada bulan Januari. Biarin aja lah biar tambah pinter.
    Tamat SMP, saya melanjutkan ke Madrasah Aliyah Mathla’ul Anwar Pusat Menes Pandeglang. Kenapa melanjutkan ke Menes? Karena waktu itu Menes lagi ’ngetrend’. Kan budaya orang Jati mah ”tuturuti”. Rame ke Menes, banyak ke Menes. Rame ke Cipasung banyak ke Cipasung. Begitu kan sampe sekarang juga? Di Aliyah MA Menes tamat tahun tahun 1984. Enakin juga loh 3 tahun tinggal di Menes. Bisa belajar bahasa sunda yang agak halus, belajar ’nyoret’ kitab gundul, belajar berkebun, dan seabreg pengalaman.
    Tapi juga pernah ngalami kenangan pahit tuh! apa? Waktu kelas 1 pernah jatuh dari jembatan kereta, masih untung gak ke jurang, karena keburu pegangan ke besi jembatan.
    Dari Menes melanjutkan ke Ciputat yaitu ke IAIN (sekarang UIN), ambil Fakultas Tarbiyah jurusan/program IPS, karena bercita-cita ingin jadi guru. Tamat Januari 1990. Sehingga mulai Januari 1990, tambah panjang deh namanya menjadi Drs. Ikhwan Kamil Marfu.
    Sejak tahun 1990 mulai mencoba ngamalin ilmu yaitu dengan mengajar sembari mengabdi di Perguruan MA Jati. Ya sambil bolak balik ke Ciputat. Karena waktu itu masih ada kerjaan ngajarin privat ngaji, lumayan buat tambah-tambah.
    Tahun 1993, alhamdulillah mulai menjadi pegawai negeri Perpustakaan Nasional di Salemba Raya Jakarta. Banyak juga pengalaman dan ilmu baru yang diperoleh di kantor ini, terutama dunia perpustakaan. Di Perpustakaan Nasional pernah dipercaya sebagai Subyek Spesialis Islam, pernah juga jadi Ketua Kelompok pengolahan Bahan Pustaka Luar Negeri, juga pernah jadi Wakil Sekretaris KORPRI Unit Perpusnas.
    Tahun 2000, karena punya rumah di kampung halaman, akhirnya dinasnya tidak lagi di Perpusnas (sebutan singkat Perpustakaan Nasional). Tapi pindah ke ’habitatnya’ sebagai guru, yakni guru di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Mauk. Sejak tahun 2001 sampai sekarang mengajar mata pelajaran Sejarah.
    Disamping tugas pokok mengajar, juga ada tugas tambahan, yaitu: pernah jadi Wakil Kepala Madrasah Bidang Kesiswaan, dan Wakil Kepala Madrasah Bidang Humas. Sekarang tugas tambahannya sebagai Wakil Kepala Madrasah Bidang Kurikulum.
    Sejak tahun 2006, karena tuntutan aturan dan zaman, bersama teman-teman guru, melanjutkan kuliah program S2 di Universitas PGRI Adi Buana Surabaya. Kuliahnya gak di Surabaya, tapi setiap semester wajib ke Surabaya. Tahun 2008 alhamdulillah kuliahnya selesai. Sehingga namanya tambah panjang lagi deh menjadi Drs. Ikhwan Kamil Marfu, M.Pd.
    Waktu sekolah dan kuliah seneng banget tuh ke --yang namanya-- berpacaran, eh sorry ’berorganisasi’ maksudnya. Di Aliyah dulu pernah jadi Ketua Ikatan Pelajar Tangerang-Menes. Juga waktu kelas 2 jadi ketua IPMA (Ikatan Pelajar Mathla’ul Anwar). Waktu kuliah, beberapa organisasi pernah diselami. Diantaranya; pernah jadi pengurus HMB (Himpunan Mahasiswa Banten) cabang Ciputat. Pernah jadi Ketua KAMAJAYA (Keluarga Abituren Mathla’ul Anwar Jakarta Raya). Pernah jadi Pengurus HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) cabang Ciputat. Juga pernah jadi Ketua Umum PII (Pelajar Islam Indonesia) Cabang Ciputat. Wah kapan tuh bagi waktu untuk kuliah dan berorganisasi? Kenyataannya bisa. Terbukti hasil kuliahnya (IP-nya) tinggi juga. Berorganisasi itu asik juga, banyak ilmu yang bisa kita peroleh yang tidak diberikan di bangku kuliah. Disamping itu juga bisa banyak berkenalan dengan semua lapisan masyarakat dan bisa melakukan kunjungan/pesiar ke berbagai tempat.
    Buat anak-anak Bapak yang baik hati dan rajin mengaji, pesan Bapak:
    Kalau ingin jadi orang sukses, rajin-rajinlah belajar. Belajar ke Buku, belajar ke Orang-orang, dan Belajar ke Alam. Hiduplah dengan penuh PD, jangan cepat putus asa. Hiduplah seperti air. Kamu liat air, dia tidak pernah diam, selalu gerak terus mencari dan mengisi lubang-lubang yang kosong, dia gak tamak, tidak pernah air mucung ketika mengisi yang kosong. Air tidak sombong, kamu liat kalaupun dia dipaksa untuk mancur, tapi dia tetap tawadhu (rendah hati) ke bawah lagi. Padahal dia mampu menyegarkan orang saat kehausan. Hiasilah hidupmu dengan banyak melakukan aktifitas positip, jangan mengikuti orang lain yang kita tidak tau manfaatnya (wala taqfu ma laisa laka bihi ’ilm). Kata Uyut Urang jatimah ”Ulah Tuturuti Lamun Teu Ngarti”, semoga.

    ,

    Nama saya Didin Hadiat, M.Pd. Saya dilahirkan di Bandung, 5 April 1970 atau 4 Mei 1970, bertepatan dengan bulan Muharram hari ke 18 tahun 1390 H. Sekarang ini saya tinggal di desa Jati, tepatnya di desa Buaranjati RT 03/04 yang biasa disebut dengan desa “Jati Lio”. Maklumlah, di Jati ini banyak jalan dan juga gang-gang yang semuanya punya nama dan makna. Konon, disebut Jati Lio karena di sana terdapat sekelompok pemuda yang punya keterampilan musik bagus, lalu membentuk gank tersendiri namanya “Lio”. Sejak saat itu masyarakat menamakannya Jati Lio.

    Terlepas dari penamaan itu, yang jelas di tempat saya berhijrah ini saya bertemu dengan seorang gadis bernama Wiwin Mutamimah. Makhluk jelita itu berhasil memikat saya, hingga akhirnya menikah, dan kini telah dikaruniain tiga anak yang lucu-lucu: Rani Nur Alfi Laila (Alfi), Syntia Hanna Adila (Dila), dan Muhammad Subhan Praja Nugraha (Deden). Alhamdulillah.

    Memang sejak SDN Cisarua dan SMPN 1 Cisarua Bandung ranking saya selalu bagus, jadi saya ‘ngebet’ pengen masuk Akabri atau APDN. Namun setelah lulus dari SMAN 2 Cimahi, lalu melanjutkan ke IKIP fakultas FMIPA jurusan Pendidikan Kimia, takdir merubah cita-cita saya. Ya, karena sekarang saya menjadi seorang guru madrasah negeri (MAN Mauk), sebuah profesi yang lebih mulia dari yang apa yang saya impikan. Bahkan tak tanggung-tanggung, saya dipercaya oleh negeri ini untuk mengatur bagian kurikulum. Sungguh amanah yang berat, tapi saya berusaha untuk menjalani sepenuh hati. Maklumlah, urusan Kegiatan Belajar-Mengajar memang sudah saya jalani di MAN Mauk ini sejak tahun 1997 -- sebuah pengabdian yang tidak sebentar.

    Berbekal pengalaman segudang itu pula, kepercayaan lembaga pendidikan terhadap saya memuncak. Tepatnya beberapa tahun sebelum menyelesaikan S2 di Universitas PGRI Adibuana Surabaya jurusan Teknologi Pembelajaran, saya juga harus memegang amanah lain sebagai Pembantu Ketua I di Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pengetahuan (STKIP) Dinamika Umat Tangerang. Di sana terdapat dua fakultas, yaitu fakultas Pendidikan Agama Islam dan fakultas ekonomi. Saya juga menangani urusan kurikulum.

    Pesan saya untuk Anak-anak MAN, bersungguh-sungguhlah belajar. Sebab, tak ada sesuatupun yang tak dapat diraih dengan belajar dan kesungguh-sungguhan. Kata pepatah Arab, “man jadda wajada” (Saha nu kereung, pasti pareng). []


    ,

    Drs. Syarif Hidayat: "Kuning Banget..."



    Kisah lucu pernah dialami pak Drs. Syarif Hidayatullah. Pria kelahiran Gintung yang berdomisili di Kampung Gunung ini sejak di SD Gintung kerap bermimpi ingin menjadi guru. Guru, menurut dia, makhluk yang paling unik. Uniknya, guru sangat berjasa tapi tak mau dikenal berjasa, padahal ia adalah cikal-bakal majunya suatu bangsa.



    Cita-cita ingin menjadi guru tak pernah lekang ketika ia masuk MTs MA Buaranjati. “Pokoknya saya harus jadi guru!”, gumamnya suatu ketika. Berbekal keinginan yang besar itulah akhirnya, setelah menyelesaikan studinya di Aliyah Sepatan, melanjutkan studi S1-nya di universitas Djuanda Bogor.



    Usai bergelar sarjana, pak Syarif, begitu ia dipanggil, memang benar-benar menjadi guru. Tak tanggung-tanggung, sejak 1995 pak Syarif berhasil mengabdikan ilmunya di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Mauk, sebuah madrasah favorit di desa Buaranjati kecamatan Sukadiri yang dikenal ketat ini.



    Tentu bukan hal yang mudah untuk bertahan selama 14 tahun kalau tidak didasari dengan niat yang tulus dan mental yang kuat. Apalagi yang ditangani sekarang ini berfokus pada pembinaan kelas X yang semuanya berjumlah 160 orang. Suka dan duka terus datang silih berganti.



    Kendati begitu, tak sedikit pak Syarif mengalami peristiwa lucu di madrasah ini. Ia merasa geli saat mengingat kejadian ketika ia sedang asyik-asyiknya berjaga-jaga, alias piket di kampus 2. Apa yang terjadi?



    “Ketika saya piket, seorang siswa datang tergopoh-gopoh. Rupanya dia minta izin hendak buang hajat di kampus 1 (karena saat itu kran air WC kampus 2 sedang macet). Ya, saya izinkan atuh,” cerita pak Syarif.



    “Dia langsung ngeloyor. Eh, belum juga keluar dari kampus 2, terdengar suara yang tidak mengenakkan dari balik celananya. Ya ampuuuun, rupanya dia kepecirit. Dia terus berlari dan menyisakan banyak warna kuning di celananya.”



    Ketika MAN MAUK Cyber-Media (M2CM) memintanya untuk memberi komentar singkat atau pesan kepada siswa, pak Syarif berpetuah:

    “Untuk anak-anakku sekalian. Sebelum berangkat ke madrasah, sebaiknya persiapkan segala sesuatunya. Termasuk diantaranya buang air besar dulu, agar tidak kebelet di madrasah”. (TM)

    ,

    Saifullah, S.Ag (Wakamad Bidang Kesiswaan): "Hidup Harus Punya Iman dan Prinsif"

    Saya lahir di Tangerang tanggal 7 Agustus tahun 1968. sekarang saya tinggal di RT 03/03, gang Preman desa Jatiwaringin kec. Mauk, kab. Tangerang. Alhamdulillah saya udah laku, baru punya satu orang isteri dan tiga orang anak dari enam yang direncanakan. Yang paling gede berjenis kelamin perempuan, dah kelas 6 SD, sementara yang laki-laki kelas IV di MIT, sakolaan-nya pak Endi. Yang ketiga di TK MA, sakolaannya bu Tati Sabriyah, yang isteri pak SBY (Syarif Budiman –Red.) itu.


    Dulu saya sekolah di MI Nurul Falah di Sarakan, lalu meneruskan ke MTs Matha’ul Anwar Buaranjati yang di belakang MAN. Kemudian saya melanjutkan ke Pendidikan Guru Agama Negeri di Serang, lalu ke IAIN SGD di Bandung (lulus pada tahun 1994).


    Sejak kecil saya kepengen jadi guru atau ustadz, karena saya melihat seorang ustadz itu secara materi serba kekurangan, tapi kelihatannya tenang. Itu dulu saat melihat guru idola saya, yaitu ust. Ansyarullah Abdul Ules, bapak kepala MAN demisioner.


    Saya mengajar di MAN sejak MAN berdiri. Memang dulu sih saya pernah mengajar di SMP, SMA, dan MTs Mathla’ul Anwar, MTs Al-Mansyuriyah di Gerudug, dan MTs Nurul Falah di Sarakan.


    Selain di MAN Mauk, saya juga mengajar di STKIP Dinamika Umat Sepatan. Meskipun saya menjadi dosen, sampai saat ini masih kuliah S2 di Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ).


    Selain ngajar dan kuliah, saya iseng-iseng ngajar ngaji anak-anak. Saya pikir, lumayanlah meskipun iseng tapi dapat pahala, kadang-kadang dapet duit. He-he-he. Itupun kalo ada yang ngasih.


    Di MAN Mauk ini memang kadang menjumpai kejadian-kejadian lucu, saking banyaknya saya sudah gak ingat. Saya sudah tidak mengingat lagi mana yang lucu, sebab saya sendiri sering ngelucu. Tapi saya gak tau, saya lucu apa gak lucu.


    Pesan saya sih untuk anak-anak MAN Mauk:


    Hidup itu harus punya cita-cita, sebab cita-cita adalah harapan, sedangkan harapan adalah doa. Hidup juga harus berprinsif, dengan prinsif hidup mudah-mudahan kita tidak mudah terpengaruh oleh orang lain. Lebih penting lagi harus punya iman yang kuat.
    Tapi bukan
    TEGAR BERIMAN lho, sebab itu sih plesetan dari “Tetap Segar Bersama Isteri Teman”. Auzubillah, ih.


Top